Jangan bekerja apa adanya, tapi bekerjalah dengan seharusnya" sebagai ungkapan dan tekad yang terus disampaikan
Rastra Gratis Bagi Warga Miskin
 

Kandangan, (Antaranews Kalsel) - "Pemerintahan yang Melayani" menjadi salah satu tekad Bupati Hulu Sungai Selatan (HSS) Achmad Fikry yang kini terus diperjuangkan dan ditularkannya kepada seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab yang dia pimpin serta instansi terkait lainnya.

"Jangan bekerja apa adanya, tapi bekerjalah dengan seharusnya" sebagai ungkapan dan tekad yang terus disampaikan, untuk mendorong agar seluruh pihak yang terlibat dalam pemerintahan, selalu berinovasi agar tidak terjebak dalam rutinitas.

Melalui inovasi, diharapkan seluruh dinas akan menghasilkan program-program yang mampu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat lebih baik lagi.

Dalam kunjungan dan perbincangan dengan kru Antaranews Kalsel ke Pemkab Hulu Sungai Selatan, Bupati Achamd Fikry menyampaikan berbagai pelayanan masyarakat yang telah dilaksanakan.

Salah satunya adalah program Beras Kesejahteraan Rakyat (Rastra Gratis) yang telah dilaksanakan sejak dua tahun terakhir.

Rastra yang sebelumnya disebut Beras Miskin (Raskin), merupakan beras murah dengan subsidi pemerintah, yang disalurkan melalui Bulog.

Kendati murah, tambah Bupati, ternyata masyarakat kurang mampu masih banyak yang kesulitan untuk bisa membeli beras tersebut ke Bulog.

"Makanya kita memutuskan memberikan Rastra tersebut secara gratis, dengan dana yang diambil dari APBD," katanya.

Program tersebut, kata Bupati, sebagai wujud dari janji yang tertanam di hatinya, saat dia belum menjabat sebagai Bupati.

Menurut Fikry, pada suatu hari, saat dia berada di depan rumah, terlihat segerombolan nenek-nenek berjalam menuju kelurahan. "Saat itu saya bertanya, 'mau kemana' ?, kemudian dijawab, 'mau membeli beras Raskin'. Kemudian saya tanya lagi, 'Memangnya punya uang', dijawab, 'tidak'."

Mendengar jawaban tersebut, Fikry mengaku heran, kemudian tanya jawab tersebut dilanjutkan, "kalau tidak punya uang, kok bisa membeli beras", katanya.

Kemudian dijawab, "saya dipinjami uang oleh seseorang yang kaya untuk membeli beras ini dengan nama saya, kemudian dari hasil membeli beras tersebut, saya akan diberikan sedikit bagian," katanya.   

Mendengar jawaban tersebut, Fikry yang kala itu masih menjabat sebagai sekretaris daerah mengaku sangat gundah, dan bertekad kalau menjadi bupati suatu saat nanti, maka akan memberikan program beras miskin gratis.

Makna dari cerita tersebut, sebagai abdi masyarakat, pemerintah harus lebih sering mendengar dan melihat, apa yang sebenarnya terjadi di masayrakat, apakah benar program-program yang diberikan sampai dan mampu menolong masyarakat keluar dari kekurangan.

"Makanya begitu saya jadi bupati, program tersebut langsung saya laksanakan, walaupun tidak semudah kelihatannya, karena niat baik, tanpa dilakukan dengan administrasi dan prosedur yang benar, pada akhirnya akan menjadi kurang baik," katanya.

Sebagai contoh, salah seorang kepala desa di daerahnya, terpaksa harus berurusan dengan hukum, karena berniat baik menalangi pembelian beras miskin ke Bulog, untuk seluruh warganya, kenyataannya setelah itu, tidak ada warganya yang menebus beras tersebut, karena tidak ada uang. Akhirnya sang kepala desa, dituduh menimbun beras miskin.

Belajar dari pengalaman tersebut, pemerintah juga berhati-hati untuk melaksanakan program pemberian Rastra gratis. Setelah belajar ke Bandung, sejak dua tahun ini, akhirnya program tersebut bisa dilaksanakan dengan baik.

"Memang ada yang mengkhawatirkan, jangan-jangan program tersebut akan membuat manja masyarakat, untuk itu, secara perlahan kita terus melakukan pendataan dan pemantauan, bahwa beras gratis hanya untuk warga miskin," katanya.

Ternyata, upaya sungguh-sungguh untuk membantu dan melayani masyarakat berbuah manis, beberapa warga yang telah keluar dari kemiskinan, mengembalikan beras bantuan tersebut sambil mengatakan, "Saya sudah tidak miskin," katanya.

Tentu ini perubahan mental dan pola pikir yang sangat membanggakan dari masyarakat, dan harus terus diupayakan, agar masyarakat tidak lagi bermental miskin tetapi terus bekerja keras untuk keluar dari kemiskinan.







    



Pewarta: Ulul Maskuriah/Fathurrahman
Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026