Menurut Kabid Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes Tabalong, H Maksum serangan malaria masih mengancam Tabalong mengingat kabupaten dengan julukan Bumi Sarabakawa ini merupakan daerah endemis malaria.
"Penanggulangan malaria memang terus kita giatkan salah satunya dengan pembagian kelambu bagi sasaran yang tersebar di dua belas kecamatan," jelas Maksum, Minggu.
Ditargetkan dari 55 ribu warga yang jadi sasaran, 80 persen bisa mendapatkan pembagian kelambu, kata Maksum, sehingga bisa meminimalkan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk.
Kegiatan pembagian kelambu rencananya digelar Oktober mendatang, dengan prioritas wilayah Utara yakni Kecamatan Jaro, Muara Uya, Haruai dan Bintang Ara.
Selain pembagian kelambu, upaya lain juga dilakukan Dinkes Tabalong diantaranya menyurvei masyarakat penderita malaria dengan mengambil darah dan mengujinya.
Jika ditemukan parasit malaria langsung diobati dan kegiatan ini rutin dilakukan di seluruh puskesmasi.
Disamping itu juga sudah dilakukan upaya pembasmian larva nyamuk di sekitar pemukiman dan kawasan rawa.
"Kasus malaria memang paling banyak ditemukan di wilayah Utara seperti Jaro, Muara Uya, Haruai dan Bintang Ara karena itu upaya penanggulangan diprioritaskan di wilayah ini," tambah Maksum.
Berdasarkan data di Dinkes Tabalong, jumlah penderita malaria terus meningkat, yakni 546 kasus (positif) dan 1.833 kasus (Klinis) pada 2009 dan 2010 hingga Juni mencapai 771 kasus (klinis) dan 289 (positif).
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.