Berdasarkan hasil pengukuran kualitas udara di sekitar Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kilometer Enam, Banjarmasin masuk dalam kategori tidak sehat.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan Rosihan Adhani di Banjarmasin, Senin, mengatakan, hasil pengukuran kualitas udara selama 24 jam yang dilakukan pihaknya dalam beberapa hari terakhir menunjukkan kualitas udara (ISPU) di Puskesmas Kilometer Enam nilainya 123.

"Angka tersebut menunjukkan nilai kualitas udara di sekitar lokasi tersebut tidak sehat," katanya.

Selain di kilometer enam, kata Rosihan, pengukuran juga dilakukan pada enam lokasi lainnya, yaitu halaman kantor KUA Landasan Ulin pada 14 Juli dengan nilai baik yaitu 32.

Selanjutnya, pada Lapangan Tembak Perbakin Kabupaten Barito Kuala pada 28 Juli dengan nilai baik yaitu 31, kemudian Puskesmas Kayu Tangi Banjarmasin pada 30 Juli dengan nilai 78 atau sedang.

Pengukuran ISPU juga dilakukan di Puskesmas Pekauman Banjaramsin dengan nilai 76 atau sedang, pengukuran di Puskesmas Martapura pada 31 Juli dengan nilai baik yaitu 24.

Memburuknya kualitas udara di beberapa lokasi di Kalimantan Selatan saat ini salah satunya disebabkan karena pembakaran lahan baik yang di sengaja maupun tidak disengaja.

Pembakaran lahan yang disengaja, biasanya dilakukan untuk membuka lahan gambut menjadi lahan pertanian padi maupun untuk kebutuhan lainnya.

Kebakaran hutan yang terjadi di beberapa wilayah juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kabut asap di Banjarmasin dalam beberapa hari terakhir.

Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Dinas Kesehatan Pemprov Kalsel telah menyiapkan masker dan obat-obatan bila kabut asap terus melanda Kalsel.

Sebelumnya,  Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan Provinsi Kalimantan Selatan mencatat titik api atau "hotspot" pada  Juli 2011 sebanyak 306 titik.

"Jumlah "hotspot" sepanjang bulan Juli itu merupakan jumlah terbanyak dibanding bulan sebelumnya sejak Januari hingga Juni 2011," ujar Sekretaris Brigdalkarhut Kalsel, Djoko Prihartanto.

Ia mengatakan, ratusan titik api yang tercatat dari hasil pengamatan satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) tersebar pada 12 kabupaten dan kota di provinsi setempat.

Jumlah titik api secara kumulatif sejak Januari hingga awal 3 Agustus 2011 tercatat sebanyak 440 titik dengan lokasi paling banyak di kawasan areal penggunaan lainnya (APL).

"Lokasi titik api paling banyak berada di kawasan APL atau lahan milik masyarakat hingga mencapai 85 persen dari jumlah keseluruhan titik api yang terekam satelit NOAA," ungkapnya./B*C


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026