Menurut Tokoh Masyarakat HST Zainal Arifin warung pencok dulunya buka setelah shalat taraweh dan menjual makanan semacam rujak atau dikenal masyarakat lokal dengan sebutan "pencok", pencok disuguhkan dari buah-buahan antara lain nenas, pisang, jambu, mangga muda, timun dan lainnya diramu dengan bumbunya pedas yang memikat selera.
Diterangkannya seiring dengan perkembangan zaman warung pencok seolah menjadi tradisi di kampung-kampung di daerah perkotaan dan pelosok HST, makanan dan minumannya pun tidak lagi cuma pencok bahkan mie rebus, snack, gorengan tahu tempe yang jaga pun rata-rata wanita muda yang memberikan pelayanan ramah dan membuat pelanggannya akan sering datang.
"Warung Pencok bukan warung jablay, warung pencok tumbuh dari kearifan lokal dan tidak menjual maksiat, gadis penjaga warung berpakaian sopan dan melayani pelanggan untuk makan dan minum serta berkomunikasi apik dengan pelanggannya disamping warung pencok ada di setiap kampung jadi masih ada pengawasan dari warga sekitar,"katanya.
Ditambahkannya saat ini setiap kampung dan desa terdapat 3 hingga 5 lebih warung pencok, atau mencapai ribuan buah bila dijumlahkah satu kabupaten maka layaklah kalau warung pencok juga dikategorikan wisata kuliner HST yang patut digali potensinya.
Memang terkadang harga makanan dan minuman yang disediakan di warung pencok harganya lebih mahal dari warung biasa, bisa jadi kenaikan harga ditunjang faktor honor penjaga warung, ongkos kirim, sewa tempat dan ada kalanya makin malam harganya jua makin mahal karena penjaga warung terpaksa menambah jam jaganya.
Pemilik Warung Pencok di daerah Pandawan Siti Rapiah mengutarakan pendapatannya menjalankan bisnis warung pencok cukup lumayan untuk kebutuhan ramadhan dan persiapan menghadapi lebaran, dalam satu malam keuntungannya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.
Dikatakannya rata-rata para wanita pemilik warung pencok memodali sendiri usahanya dengan modal awal Rp. 500.000,-, pengunjung warung bukan hanya dari warga sekitar, dari kecamatan tetangga hingga dari kabupaten tetangga yang kadang sengaja datang untuk bersilaturrahmi dan melepaskan letih usai bekerja.
"Alhamdulillah penghasilan yang diperoleh bahkan cukup untuk diri sendiri bahkan sisanya dapat membantu orang tua dan adik-adik untuk keperluan sekolah serta untuk baju dan keperluan lebaran lainnya,"katanya.
Sementara pelanggan warung pencok jali mengutarakan kenyamanannya di warung pencok karena disamping harganya terjangkau, layanan para penjaga warung yang ramah dan sopan tidak membeda-bedakan pelanggan kaya dan miskin.
Dijelaskannya selama ramadhan ia sering berkunjung ke beberapa warung pencok yang berbeda bahkan ke kecamatan lain dengan tujuan jalan-jalan mengisi waktu di malam ramadhan yang senantiasa meriah dan berharap dapat jodoh dari sekian banyak gadis penjaga warung pencok yang dikunjunginya.(Fat/Humas/B)
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.