Gerakan ini bila berhasil tentu akan memberikan kenyamanan bagi masyarakat itu sendiri, karena itu pula kepada seluruh masyarakat ikut berperan mensukseskannyaBanjarmasin (Antaranews Kalsel)- Pemerintah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum menggelar lokakarya guna mendukung gerakan 100-0-100 yakni seratus persen ketersediaan air bersih, nol persen pemukiman kumuh, serta seratus persen akses sanitasi.
Lokakarya yang berlangsung dua hari tersebut dibuka Penjabat Wali Kota Banjarmasin Thamrin, Senin yang kala itu menyebutkan gerakan 100-0-100 adalah gerakan yang sebenarnya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi merupakan tugas bersama terutama masyarakat.
Sebab gerakan tersebut bila berhasil tentu akan memberikan kenyamanan bagi masyarakat itu sendiri, karena itu pula kepada seluruh masyarakat ikut berperan mensukseskannya.
Makanya keterlibatan Forum Komunitas Hijau (FKH), Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dan Komunitas Sepeda Antik Banjarmasin (Saban) dalam kegiatan lokakarya ini, merupakan yang hal yang tepat yang nantinya akan bertindak sebagai fasilitator kedepan dalam gerakan yang sudah dicanangkan pemerintah tersebut, kata Thamrin.
Sementara itu Ketua Bappeda Banjarmasin ir Fajar Desira menyebutkan dalam gerakan 100-0-100 tersebut tentu berbasis penataan sungai.
Menurutnya Kota Banjarmasin, satu kota terpadat di Indonesia dengan jumlah penduduk 666.223 jiwa pada malam hari dan dapat mencapai 1 juta jiwa pada siang hari dengan luas hanya 98,46 km2.
Banjarmasin dikenal sebagai Kota Seribu Sungai dan juga "Venice van Indies" karena karakteristik kotanya
yang dilewati 102 sungai dengan panjang total 185.303 km, baik itu sungai besar, sungai sedang, maupun
sungai kecil. Luas badan sungai di Banjarmasin mencapai hampir 10 persen dari total luas wilayah Kota Banjarmasin.
Pengaruh keberadaan sungai di Kota Banjarmasin terlihat dari riwayat permukiman yang berawal dari tepi
sungai, potensi ekonomi dan pariwisata yang berkembang di sepanjang sungai serta akses dan transportasi utama kota yang pada awalnya adalah melalui sungai.
Namun dalam perkembangannya, muncul berbagai persoalan pembangunan permukiman dan perkotaan di
Kota Banjarmasin, antara lain sungai yang mulanya adalah muka kota menjadi dipunggungi karena pola
pembangunan yang berorientasi pada akses darat, menurunnya kualitas sungai yang mengalami
pencemaran dan pendangkalan karena pengaruh berkembangnya hunian di bantaran sunga.
Penanganan berbagai persoalan penanganan permukiman dan perkotaan dengan karakter kota sungai di atas, tidak dapat dilakukan secara parsial dan membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, khususnya masyarakat.
sungai kecil. Luas badan sungai di Banjarmasin mencapai hampir 10 persen dari total luas wilayah Kota Banjarmasin.
Pengaruh keberadaan sungai di Kota Banjarmasin terlihat dari riwayat permukiman yang berawal dari tepi
sungai, potensi ekonomi dan pariwisata yang berkembang di sepanjang sungai serta akses dan transportasi utama kota yang pada awalnya adalah melalui sungai.
Namun dalam perkembangannya, muncul berbagai persoalan pembangunan permukiman dan perkotaan di
Kota Banjarmasin, antara lain sungai yang mulanya adalah muka kota menjadi dipunggungi karena pola
pembangunan yang berorientasi pada akses darat, menurunnya kualitas sungai yang mengalami
pencemaran dan pendangkalan karena pengaruh berkembangnya hunian di bantaran sunga.
Penanganan berbagai persoalan penanganan permukiman dan perkotaan dengan karakter kota sungai di atas, tidak dapat dilakukan secara parsial dan membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, khususnya masyarakat.
Merubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat tepi sungai untuk hidup selaras dengan kelestarian sungai menjadi kunci dalam pengelolaan infrastruktur permukiman tepi sungai guna mewujudkan kota yang ramah sungai.
Dibutuhkan embrio yang memfasilitasi perubahan pola hidup masyarakat tersebut melalui fasilitator atau anggota komunitas masyarakat yang secara langsung hidup bersama masyarakat. Untuk mendorong `lahirnya embrio-embrio sebagai ujung tombak pembangunan kota ramah sungai ini,
Berdasarkan panitia Lokakarya ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas fasilitator dan komunitas untuk memberdayakan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur permukiman yang layak huni dan berkelanjutan di Kota Banjarmasin.
Lokakarya diikuti sekitar 50 orang dari kalangan penggiat lingkungan, Badan Pemberdayaan Masyarakat (BKM), serta dari kalangan kelurahan dan karyawan SKPD terkait.
Pewarta: Hasan ZainuddinEditor : Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.