Palu, (Antaranews Kalsel) - Kabut asap yang menyelimuti Kota Palu berlangsung hampir dua pekan terakhir ini bisa mempengaruhi kunjungan wisatawan manca negara ke berbagai objek wisata di daerah itu.


"Kalau kabut asap terus menerus menyelimuti Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu, maka kemungkinan besar banyak wisatawan manca negara mengalihkan perjalanan ke daerah lain," kata Kepala Bidang Tehnis Konservasi Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) Ahmad Yani di Palu, Rabu.

Ia mengatakan, kunjungan wisatawan manca negara ke daerah tujuan wisata (DTW), termasuk di Sulteng semakin meningkat.

Apalagi dengan kebijakan pembebasan visa akan memberikan kemudahan dan peluang besar bagi wisatawan manca negara untuk masuk ke Indonesia menikmati berbagai objek wisata menarik di Tanah Air.

Objek-objek wisata yang ada di Sulteng, termasuk dalam kawasan Taman Nasional tidak kalah menarik dengan daerah lainnya.

Bahkan mungkin lebih menarik dari objek wisata yang dimiliki DTW lain di Tanah Air.

Sulteng sendiri, kata Yani banyak memiliki objek wisata unggulan dan banyak dikunjungi wisatawan manca negara.

Salah satu objek menarik dan unik, bahkan hanya ada di dalam wilayah cagar biosfer TNLL yaitu "surga" burung di Danau Tambing, Kecamatan Lore Selatan, Kabupaten Poso.

Namun dalam beberapa hari terakhir ini, wisatawan manca negara yang berkunjung ke objek wisata itu berkurang karena dampak dari kabut asap kebakaran hutan yang menyebabkan penerbangan dari dan ke Palu banyak mengalami keterlambatan dan juga pembatalan.

Menurut dia, pemerintah harus memberikan perhatians serius terhadap kasus kebakaran hutan yang tidak hanya melanda Sumatera dan Pulau Kalimantan, tetapi juga Sulawesi, termasuk di Provinsi Sulteng dan provinsi tetangga Gorontalo.

Namun kebakaran hutan paling parah terjadi di Sumatera dan Kalimantan yang asapnya sampai ke wilayah Kota Palu dan daerah lainnya di Sulteng.

Pada 2015 ini, pihak TNLL menargetkan kunjungan wisatawan manca negara ke berbagai objek wisata dalam kawasan Taman Nasional sebanyak 5.000 orang./e

Pewarta: Anas Masa
Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026