Pengurus Persatuan Anggrek Indonesia Kalimantan Selatan berhasil mengidentifikasi 200 dari ribuan jenis Anggrek Meratus khas daerah itu yang kini hampir punah.
Sekretaris PAI Kalsel Julianto di Banjarmasin Kamis mengatakan, sebanyak 200 jenis anggrek tersebut merupakan bunga yang keberadaannya benar-benar telah terlacak dan berhasil difoto oleh PAI.
"Dari hasil penelusuran dan penjelajahan PAI ke beberapa kawasan hutan Meratus di Kalsel telah menemukan 200 species anggrek yang sebagian besar keberadaannya telah hampir punah," katanya.
Seluruh hasil penelusuran tersebut, kata dia, kini sedang dalam proses pembukuan sehingga data-data tentang anggrek Kalsel bisa ditemukan dalam foto dan buku yang akan diluncurkan pada akhir 2011.
Menurut Julianto, dari informasi yang dikumpulkan, di Kalimantan terdapat sekitar 2.500- 3.000 species anggrek, dari jumlah tersebut sekitar 500 - 1.500 species berada di Kalsel.
"Sedangkan yang telah kita abadikan dalam foto baru sekitar 200 anggrek yang sangat exotis," katanya.
Di harapkan, tambah Julianto, dengan adanya peluncuran buku tentang anggrek Maratus yang baru pertama kalinya di Indonesia tersebut, akan mampu menggugah warga Kalsel untuk lebih menikmati dan mencitai khasanah kekayaan alam Kalsel.
Apalagi kata dia, saat ini banyak anggrek Kalsel yang telah langka atau punah, kalaupun masih ada justru telah dikembangkan di luar negeri seperti di Malaysia dan lainnya, sedangkan di Indonesia justru tidak ditemukan lagi.
Hal tersebut terjadi, tambah Julianto, karena adanya pembabatan hutan yang membabi buta dan penjualan anggrek secara besar-besaran tanpa ditangkarkan terlebih dahulu.
"Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, karena anggrek bisa menjadi salah satu simbul kekayaan hayati Kalsel khususnya dan Indonesia umumnya," katanya.
Dikatakannya, terdapat empat jenis anggrek Kalsel yang kini punah atau sulit ditemukan di pinggiran hutan Meratus antara lain "dendribium hepatikum" dan "spatoglotis aurea". Dan, untuk mengantisipasi hilangnya anggrek langka dari Kalsel, pihaknya sedang fokus mengembangbiakkan anggrek bulan atau "phalaenopsis amabillis var" asli Pelaihari.
"PAI Kalsel bersama pemerintah Kota Banjarmasin sedang serius mengembangkan anggrek bulan khas Kalsel yang kini juga mulai langka itu," katanya.
Selain itu, kata dia, sebanyak 10 anggrek khas Kalsel kini juga telah dilindungi undang-undang sehingga tidak bisa diperjualbelikan baik di dalam maupun di luar negeri.
Sayangnya dari 10 jenis anggrek khas Kalsel yang telah dilindungi undang-undang itu, empat anggrek langka yang telah hilang tidak termasuk.
"Mungkin karena sudah telanjur hilang, empat anggrek tersebut di atas tidak masuk sebagai anggrek yang dilindungi hukum," tambahnya.
Ke- sepuluh jenis anggrek yang dilindungi yaitu, anggrek tebu ("gramatopylum speciosum"), anggrek hitam atau "coelogyne pandurata", anggrek rawa atau "vanda hookeriana", anggrek bulan gajah atau "phalaenopsis gegantea".
Selanjutnya, anggrek bulan Zebra atau "phalaenopsis sumatrana/zebrina, anggrek kunang-kungan "ascocentrum miniatum", anggrek tanah kuning atau "spathoglottos zurea", anggrek ekor tikus atau "pharaphalaenopsis deneveio", kemudian pharaphalaenopsis serpentilingua" dan terakhir "pharaphalaenopsis laycokii"./B
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.