Kutipan tersebut merupakan nawacita ketiga dari presiden Joko Widodo, yaitu salah satu agenda prioritas beliau dalam memimpin Indonesia. Manifestasi dari impian tersebut salah satunya adalah pembangunan pedesaan, yang tidak dapat dipisahkan dari gagasan kemandirian bangsa.
Desa adalah miniatur negeri. Desa sering dipersepsikan orang kota sebagai tempat yang nyaman dan indah, namun tak sedikit pula persepsi desa merupakan potret buram kemiskinan negeri. Dengan adanya komitmen untuk membangun desa dengan adanya dana desa, desa bukan lagi hanya dianggap sebagai obyek pembangunan namun juga ditempatkan menjadi subjek langsung dalam pembangunan itu.
Pembangunan perdesaan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat desa. Tahun 2020 dan 2021 bukanlah tahun yang mudah bagi Indonesia, pandemi covid-19 menerjang kita semua secara tiba-tiba dan segala sisi kehidupan terdampak olehnya.
Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan, melainkan juga pada kondisi sosial dan ekonomi. Pandemi ini menekan perekonomian dari berbagai sudut, tidak terkecuali terhadap perekonomian desa. Salah satunya Desa samhurang.
Desa Samhurang adalah desa yang terletak di kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Desa Samhurang berjarak 19 km dari pusat kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Dari data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Desa Samhurang berstatus sebagai desa Maju pada tahun 2021, dimana mengalami peningkatan dari tahun 2020 lalu yang berstatus desa Berkembang. Desa Samhurang berpenduduk 1.678 jiwa, dengan jumlah 605 Kepala Keluarga.
Mayoritas mata pencaharian penduduk Desa Samhurang adalah memanfaatkan sumber daya alam yang ada di desa samhurang yaitu bertani, berkebun dan mencari ikan. Pada tahun 2021 Total Dana Desa yang dialokasikan oleh pemerintah adalah sebesar Rp 72 triliun yang disalurkan ke 74.958 Desa tak terkecuali Desa Samhurang.
APBDesa Samhurang berjumlah Rp 1,2 milyar, Pendapatan Desa samhurang terdiri atas PADes, Pendapatan Transfer, dan Pendapatan lain-lain. Dana desa yang termasuk dalam pendapatan transfer yang diterima Desa Samhurang adalah sebesar Rp 865 juta.
Prioritas penggunaan dana desa pada tahun 2020 dan 2021 difokuskan untuk penanganan dan penanggulangan bencana non alam yaitu pandemi covid-19 salah satunya dengan pelaksanaan program Bantuan Langsung Tunai dengan sasaran masyarakat desa yang terdampak dari pandemi ini.
Desa Samhurang telah melaksanakan penyaluran BLT sejak April 2020 yang diterima oleh 104 Keluarga Penerima Manfaat(KPM), dan pada tahun 2021 meningkat sebesar 100 KPM sehingga total penerima BLT pada tahun 2021 menjadi 204 KPM.
Peningkatan jumlah penerima manfaat tersebut dilatarbelakangi oleh bertambahnya keluarga yang terdampak atas bencana non alam pandemi covid-19 sejak tahun 2020 yang meyebabkan pertambahan jumlah penerima BLT.
Perumusan keputusan atas penentuan keluarga yang menerima BLT pada Desa Samhurang berlangsung cukup panjang, hingga melaksanakan sampai 6 (enam) kali musyawarah desa yang menghasilkan keputusan akhir penerima Bantuan Langsung Tunai(BLT). Pihak aparatur desa bersinergi langsung dengan para tetua dan masyarakat desa dalam musyawarah untuk menentukan penerima BLT.
Proses awal seleksi penerima manfaat dimulai dari pendataan status masing-masing keluarga di Desa Samhurang baik berupa kategori kelas ekonomi, pendapatan hingga kondisi tempat tinggal.
Selanjutnya data tersebut diolah dan kemudian disaring sesuai kriteria yang ditetapkan pemerintah yaitu syarat berupa tidak menerima bantuan sosial lain dari pemerintah seperti Program Keluarga Harapan, Bantuan Pangan Non Tunai, dan bansos pemerintah lainnya.
Penyaluran BLT pada Desa Samhurang dilakukan dengan membagi seluruh KPM menjadi beberapa kelompok dengan jadwal yang ditetapkan pemerintah desa agar tetap menerapkan social distancing di masa pandemi ini.
Selanjutnya BLT pun langsung diserahkan ke masing-masing KPM yang telah ditentukan secara tunai. Jumlah yang diterima adalah sebesar Rp 300.000,- per KPM setiap bulannya.
Pemanfaatan BLT yang telah diterima digunakan sebaik-baiknya oleh warga Desa Samhurang. Pandemi covid-19 secara tidak langsung mempengaruhi pendapatan warga Desa Samhurang.
Pada kondisi normal, warga Desa Samhurang mayoritas mencari nafkah dengan berkebun sayur seperti cabe dan terong, hasil panen yang didapatkan sebenarnya tetap menghasilkan namun penjualan hasil panen itulah yang berpengaruh signifikan karena permintaan dari pasar pada masa pandemi ini menurun jauh dari biasanya sehingga hasil panen tidak sebanding dengan hasil penjualan yang didapatkan karena harga menurun drastis disebabkan penawaran lebih besar dari permintaan.
Seperti hukum ekonomi penawaran dan permintaan, jika penawaran jauh lebih besar dari pemintaan maka harga akan otomatis turun drastis dibandingkan kondisi idealnya.
Akibat dari harga yang jatuh tadi, warga Desa Samhurang tertatih-tatih dalam menutupi modal yang telah dikeluarkan. Jatuhnya harga tak membuat pupuk yang menjadi alat utama dalam perkembangan tanaman menjadi ikut turun, bahkan harga pupuk malah melonjak naik, berbanding terbalik dengan harga hasil panen.
Bantuan Langsung Tunai (BLT) pun hadir dalam keterpurukan ini, Bantuan Langsung Tunai (BLT) menjadi pelampung bagi yang membutuhkan pertolongan di masa pandemi ini. Bagi orang-orang yang terdampak secara langsung maupun tidak langsung, yang kehidupan ekonominya merosot jatuh, BLT adalah penyelamat dalam menghadapi kehidupan di masa sekarang.
"Pandemi ini berdampak sekali buat saya rakyat kecil, usaha kebun lombok saya rugi karena hasil panen yang dijual tidak bisa menutupi modal yang telah dikeluarkan, namun dengan adanya BLT ini sangat membantu saya untuk membeli pupuk dan mempertahankan usaha kebun lombok saya ini," Ucap Pak surya, penduduk Desa Samhurang yang sehari-hari berkebun lombok di pekarangan rumahnya.
Jawaban sama pun terucap dari bibir Pak Bahriadi. "BLT ini sangat membantu kami di dengan pendapatan yang tidak pasti di masa sekarang, serta peran pemerintah untuk orang desa seperti kami pun terlihat dengan adanya BLT ini," katanya.
Harapan pun didengungkan Mulyadi. "Saya berharap pandemi ini lekas usai supaya keadaan bisa kembali normal, harga hasil panen kembali ke harga biasanya dan pendapatan pun membaik untuk saya dapat membiayai pengeluaran sehari-hari," katanya.
Menurut sekdes Desa Samhurang, Saipi Rahman, pemanfaatan BLT oleh penduduk Desa Samhurang mayoritas bersifat produktif, yaitu digunakan untuk modal bekerja baik berupa bibit, pupuk, pakan ternak dan modal lainnya untuk mempertahankan mata pencaharian para penduduk Desa Samhurang.
Stereotip pemberian uang tunai secara langsung akan tidak efektif dan cenderung bersifat konsumtif pun terbantahkan karena penduduk Desa Samhurang sendiri menggunakannya untuk hal-hal penting dalam mempertahankan produktivitas dalam mencari pendapatan.
Asa dari setiap penerima BLT dan kita semua mungkin sama, semoga semuanya lekas pulih dan pandemi ini selesai. Usaha pun selalu digaungkan oleh Pemerintah, untuk kita bersama sama melawan musibah ini, karena seperti kata pepatah "Jika ingin berjalan lebih cepat, berjalanlah sendirian; Jika ingin berjalan lebih jauh, berjalanlah bersama-sama,".
Hasil dari pelaksanaan dana desa sejak diterimanya dana desa pada Desa Samhurang memberikan manfaat luas bagi desa meliputi pembangunan akses pertanian berupa pembangunan jalan usaha tani, yaitu memanfaatkan lahan yang sebelumnya belum terjamah dengan dibuatnya jalan dan jembatan untuk akses pertanian di desa samhurang dan membantu kelancaran aktivitas pertanian.
Sektor pendidikan pun ditandai dengan pembangunan TPA (TK Pendidikan Alquran) serta bantuan operasionalnya, sekolah tahfidz Quran, PAUD, dan mendukung kegiatan-kegiatan pendidikan lainnya. Di sektor kesehatan, melaksanakan kegiatan-kegiatan posyandu, pemenuhan gizi balita dan pengadaan fasilitas-fasilitas kesehatan lain. Serta dana desa turut menyalurkan dana untuk penyertaan modal BUMDes di Desa Samhurang.
"Sejak dikucurkannya dana desa pada tahun 2015, kami merasa diikutsertakan dalam pembangunan negeri khususnya desa kami. Kami bisa mewujudkan tujuan-tujuan dari masyarakat desa secara langsung dan segera menindaklanjutinya, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa pun cepat dilaksanakan. Semboyan membangun dari desa pun tergambarkan secara konkrit," tutup Saipi Rahman.
Ditulis oleh: Yuni Cahya Pertiwi
Pewarta: M. Taupik RahmanEditor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.