Sebagian nelayan di Kotabaru, Kalimantan Selatan sebulan terakhir masih belum berani melaut dan memilih menambatkan perahu karena gelombang tinggi.

"Nelayan masih memilih beristirahat karena gelombang yang terjadi akhir-akhir ini kurang bersahabat," kata seorang warga Tanjung Smalantakan, Pamukan Selatan Sugeng, Sabtu.

Bahkan mereka juga tidak berani menambatkan perahu di pantai karena gelombang tinggi yang menghantam bibir pantai dapat mengakibatkan perahu rusak/pecah.

Para nelayan terpaksa menambatkan perahu disungai-sungai yang teduh dan tidak ada gelombang.

Kendati tinggi gelombang diperairan yang biasa dikunjungi nelayan Kotabaru masih dibawah tiga meter namun gelombang dan angin kencang yang tidak menentu tersebut cukup membahayakan bagi perahu tangkap nelayan tradisional.

Sementara untuk menutupi biaya hidup sehari-hari karena tidak melaut sebagian nelayan kini mulai mencari pekerjaan lain seperti buruh bangunan di perumahan dan proyek-proyek pemerintah.

Selain nelayan Pamukan Selatan yang belum berani melaut, sebagian nelayan di Pulau Sebuku, Pulau Sembilan dan beberapa daerah lainnya juga belum berani melaut.

Abdullah warga Kelumpang Utara menuturkan, bahwa nelayan di daerahnya juga masih belum berani melaut, aklibat gelombang besar.

Terlebih sejak terjadinya musibah PM Martasiah B II tenggelam di perairan Tanjung Dewa, Senin (6/6) dengan korban meninggal dunia 29 orang.

Kapal pengangkut tandan buah segara kelapa sawit juga tenggelam di perairan Tanjung Dewa akibat gelombang besar, serta sebuah spedboat di Pudi pecah juga akibat gelombang tinggi.

"Hal itu membuat nelayan semakin trauma," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Administrasi Pelabuhan Kotabaru, Jhony K Lintang, melalui Kasubsi Penjagaan dan Penyelamatan H Akhmad Jayadi, mengatakan, melihat kondisi saat ini sering terjadi gelombang tinggi, maka nelayan diimbau untuk waspada dan berhati-hati dalam beraktivitas di laut.

Jayadi mengaku, hingga saat ini belum ada edaran dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang melarang kapal tertentu untuk berlayar akibat gelombang tinggi.

Informasi yang ada baru menunjukkan bahwa gelombang di sebagian perairan Kotabaru bisa mencapai 1,5-2 meter, seperti yang terjadi di perairan Tanjung Pemancingan.

Namun kenyataannya di lapangan, terkadang gelombang hanya mencapai 0,5 meter saja, bahkan untuk hari kemarin (Rabu/22/6) gelombang tenang.

Namun demikian, lanjut Jayadi, tidak ada salahnya jika para nelayan selalu berhati-hati dan waspada dalam menyikapi musim gelombang akhir-akhir ini.(C/A)




Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026