Dinas Tanamana Pangan, Peternakan dan Perikanan Tabalong, Kalimantan Selatan mengembangkan biogas dengan memanfaatkan kotoran sapi untuk menghasilkan energi.

Menurut Nirmala, seksi produksi di Dinas Tanaman Pangan, Peternakan dan Perikanan Tabalong sudah lima kecamatan yang mencoba pemanfaatan kotoran ternak untuk pembuatan biogas.

Masing-masing Kecamatan Jaro, Tanjung, Haruai, Bintang Ara dan Murung Pudak terdiri atas 8 kelompok tani yang mengolah kotoran sapi menjadi bahan bakar yang ramah lingkungan dan aman tentunya.

"Bahan bakar biogas yang kita kembangkan memang memanfaatkan kotoran sapi dan sudah empat kecamatan yang  sudah melaksanakannya," jelas Nirmala.

Pengembangan energi biogas di Tabalong saat ini hanya dilakukan sejumlah kelompok tani ternak karena pengolahannya memerlukan kotoran ternah yang cukup banyak.

Untuk satu unit pengolahan biogas  (Biodigester) saja memerlukan sekitar 1 ton kotoran sapi dengan masa pengolahan selama 15 hari, selanjutnya pengisian kotoran sapi harus dilakukan agar bisa menghasilkan energi.

"Pengolahan biogas masih terbatas di kalangan kelompok tani ternak karena untuk bisa menghasilkan energi biogas memerlukan cukup banyak kotoran sapi, untuk tahap awal saja diperlukan sekitar satu ton kotoran," jelas Nirmala.

Selain itu energi biogas yang dihasilkan juga hanya mampu disalurkan  maksimum 30 meter dan bisa digunakan untuk penerangan tiga buah rumah tangga dan memasak.

Rencananya pada 2010 ini Dinas Tanaman Pangan, Peternakan dan Perikanan Tabalong akan menambah instalasi pengolahan biogas untuk tiga kelompok tani ternak Tabalong.

Satu instalasi pengolahan biogas sendiri biayanya cukup besar yakni Rp30 juta untuk pembuatan biodigester dengan kapasitas 9 kubik dan diameter 2,7 meter.

"Tahun ini rencananya kita akan menambah unit pengolahan biogas untuk tiga kelompok tani dan untuk satu instalasi pengolahan biayanya mencapai Rp 30 juta namun bisa dipakai selama 30 tahun lebih," ujarnya.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026