Pada seminar lingkungan hidup bertema "Selamatkan Air Baku dan Sungai di Kalsel" yang diselenggarakan Komunitas "Journalist" Pena Hijau Indonesia di Aula Abdi Persada Banjarmasin, Selasa, Rahmatullah mengatakan, beberapa tahun lalu pengolahan air sungai menjadi air minum cukup menggunakan tawas.
Namun kini penjernih air tersebut tidak mampu lagi membuat air sungai layak untuk dikonsumsi.
"Kalau dulu kami cukup menggunakan tawas untuk proses pengolahan air sungai menjadi air minum, sekarang harus menggunakan poly aluminium cloride liquid (PAC Liquid) yang harganya lebih mahal," katanya.
PAC Liquid adalah bahan kimia yang digunakan sebagai penjernih air limbah menjadi air yang layak diminum.
Namun kini, kata dia, PAC Liquid pun tidak cukup lagi untuk mengolah air sungai Kalsel menjadi air minum karena baku mutu air semakin buruk sehingga PDAM harus menggunakan bahan penjernih dengan kualitas di atas PAC Liquid.
Kondisi tersebut terjadi, kata dia, karena saat ini air sungai di Kalsel jauh berada di bawah standar baku mutu sehingga pihaknya harus melakukan beberapa kali tahapan untuk mendapatkan air yang sehat.
"Kondisi tersebut membuat biaya operasional PDAM Bandarmasih dan PDAM lain di Kalsel menjadi sangat tinggi, tidak kurang dari Rp132 miliar," katanya.
Bila kualitas air baku tersebut tidak segera dikendalikan, kata dia, biaya operasional PDAM Kalsel akan terus membengkak dan dikhawatirkan menghambat penambahan pelayanan PDAM ke beberapa daerah terpencil yang hingga kini belum terlayani.
Memburuknya kualitas baku mutu air tersebut sebagian besar disebabkan pencemaran sungai yang cukup tinggi baik karena logam berat, bakteri ecoli maupun sampah rumah tangga.
Kondisi tersebut, kata dia, diperparah dengan pemberlakuan jatah listrik oleh PLN yang hanya lima jam padahal operasional PDAM selama 24 jam.
Menurut Rahmatullah, listrik padam berdampak pada operasional mesin PDAM. Bila mesin tidak bergerak, pipa sepanjang 1.100 kilometer yang mengantarkan aliran air ke pelanggan juga kosong.
"Bila pipa sampai kosong diperlukan waktu dua hari untuk kembali mengisinya. Kondisi tersebut menjadi salah satu sebab PDAM Kalsel sering mati," katanya.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.