Hal itu disampaikan Kepala Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Rakhmadi Kurdi pada seminar lingkungan hidup yang diselenggarakan Komunitas "journalist" Pena Hijau Indonesia di Aula Abdi Persada Banjarmasin, Selasa.
Pada seminar bertema "Selamatkan air baku dan sungai di Kalsel", Rakhmadi mengatakan, IKLH Kalsel menempati urutan tiga provinsi terburuk bersama Kalimantan Tengah dan DKI Jakarta. Indeks Kalsel tercatat 48,25, Kalteng 45,70 dan DKI Jakarta 41,73.
Penilaian itu, kata dia, didapat dari kondisi kualitas air, kualitas udara dan tutupan hutan yang buruk.
"Kualitas air Kalsel yang paling jelek se Indonesia setelah Kalimantan Tengah (Kalteng)," katanya.
Hal itu terjadi selain karena sebagian besar sungai di Kalsel telah tercemar dan baku mutu sungai juga setiap tahunnya semakin buruk.
Kondisi tersebut, kata dia, sangat berpengaruh terhadap kualitas kesehatan warga Kalsel, terutama kesehatan gigi yang mudah keropos dan patah.
"Makanya sebagaimana dikatakan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin, banyak warga Kalsel penampilannya terlihat gagah dan cantik, namun sayang waktu tersenyum giginya ompong," kata Rakhmadi di sambut tawa peserta seminar.
Mengatasi hal tersebut, kata dia, Gubernur segera melayangkan surat kepada bupati dan walikota se-Kalsel agar segera membenahi lingkungan hidup dan memperbaiki kualitas air dan sungai.
"Surat edaran tersebut akan segera kita sebarkan setelah ditandatangani Gubernur," kata Rakhmadi.
Selain Rakhmadi hadir sebagai pembicara seminar dengan moderator Kepala LKBN ANTARA Kalsel Abdul Hakim Muhidin adalah Ramliyadhi dari BP-DAS dan Ketua Persatuan PDAM Kalsel, Rahmatullah.
Ketua komunitas "journalist" pena hijau Indonesia Denny Susanto di Banjarmasin mengatakan, seminar dengan tema tersebut diatas sengaja diangkat karena didorong oleh rasa keprihatinan yang mendalam dari para wartawan pecinta lingkungan.
"Kata sangat prihatin dengan kondisi lingkungan Kalsel yang semakin rusak, diharapkan dengan adanya seminar ini akan ditemukan solusi untuk menyelamatkan lingkungan," katanya.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.