Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - R atusan anak terlibat dalam sebuah pertunjukan tari klosal pada pembukaan pergelaran seni di Taman Budaya Kalimantan Selatan, di Banajarmasin, Senin malam.


Pegelaran seni yang bertajuk "Simponi Banua Untuk Semua" serta berlangsung 3 - 8 November 2014 tersebut sebagai wadah pengembangan ruang kreatif Kalimantan Selatan (Kalsel) 2014.

Direktur Pengembangan Seni dan Pertunjukan dan Industri Musik Kementerian Pariwsata Juju Masunah yang hadir dan membuka acara itu menyatakan kekagumannya terhadap seni budaya di Kalsel. "Luar biasa kesenian di Kalsel," katanya.

Dia menyatakan, kementerian pariwisata sangat mendukung pengembangan seni kreatif di daerah, tidak terkecuali di Kalsel. "Kita yakin, Kalsel memiliki potensi besar pengembangan seni dan budaya," paparnya.

Oleh karena itu, beber dia, pemerintah daerah harus memberikan perhatian lebih terhadap para pegiat seni di daerah ini untuk bisa berkiprah di kancah nasional, bahkan internasional.

Pada kesempatan itu, Juju didampingi Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata Kalsel Mohandas, Kepala Taman Budaya Kalsel Sirajudin, disaksikan para tokoh seni dan budaya daerah setempat.

Kepala Taman Budaya Kalsel Sirajudin menerangkan, Taman Budayanya akan dimeriahkan berbagai pertunjukan seni selama empat hari, yakni pergelaran kolaborasi "Taritisan" oleh Sanggar Lawang Banjarmasin, pergelaran versi Ramayana "Arak-Arakan di Negara Dipa" oleh Sanggar Tari Taranusa Banjarmasin.

Selain itu, gelar kesenian yang hampir punah "Ba Andi-Andi" sekalian mendokumentasikannya yang akan dimainkan Dalang Rakhmadi cs dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel.

Dalam gelar seni yang didanai Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu, juga pergelaran "Musik Kuriding dan Orkestra Banjar" oleh kelompok mahasiswa Sendertasik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.

Pada malam terakhir pergelaran tersebut akan ditutup penampilan Maestro H Adjin Arijadi, pimpinaan Sanggar Budaya Kalsel, dengan sebuah teater modern berjudul Pewaris Haram Manyarah.

  Haram Manyarah sebuah motto perjuangan Pangeran Antasari dalam melawan penjajah Belanda pada abad ke-18, dan almarhum yang kini makamnya di Komplek Pekuburan Muslim - Jalan Masjid Jami` Banjarmasin itu mendapat gelar Pahlawan Nasional.   

Pewarta: Sukarli
: Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026