Di Kecamatan Haruyan banjir menggenangi beberapa desa yaitu Lokbuntar, Simpang Empat Haruyan, Mangunang, Haruyan Seberang, Pengambau Hulu dan Pengambau Hilir.
Camat Haruyan Kurmadi mengatakan, dibanding tahun-tahun sebelumnya, banjir kali ini merupakan yang terparah.
Menurut dia, biasanya banjir di daerahnya air hanya setinggi lutut sekarang sudah sepinggang orang dewasa atau satu Meter.
Banjir mulai terjadi, sekitar pukul 07.00 Wita i, dan makin dalam sekitar jam 09.00 Wita, warga terpaksa mengamankan barangnya karena air terus naik sampai pelataran dan lantai warga dan yang memprihatinkan lahan persawahan siap panen ikut terendam.
Anggota Koramil Labuan Amas Selatan Koptu Dwi P mengatakan terjadinya banjir yang tak disangka-sangka itu, membuat para petani tak sempat menyelamatkan hasil panennya, seperti tetangganya Dansyah yang tidak sempat menyelamatkan padi yang baru saja dipanen.
"Mansyah telah memanen padinya dan siap menggilingnya untuk dirontokkan, tiba-tiba datang banjir, sehingga padinya tenggelam, sehingga kurang lebih 50 blek padi tak terselamatkan," katanya.
Sementara Hadriansyah tokoh masyarakat Haruyan menjelaskan kalau banjir di daerahnya biasanya tidak berlangsung lama, air akan turun dua atau tiga jam selanjutnya banjir akan turun ke desa tetangga lainnya yaitu Pengambau Hulu dan Hilir.
Akibat banjir tersebut diperkirakan sekitar 150 hektar sawah terancam gagal panen.
"Air menggenangi beberapa desa sekitar 2 kilo meter dari Lok Buntar , dan jalur terputus sekitar 300 meter dari simpang empat haruyan hingga Haruyan tidak bisa dilewati kendaraan bermesin roda dua atau pun empat karena dalamnya air "katanya.
Banjir juga terjadi di Kecamatan Batu Benawa, Banjir di wilayah ini terhitung terparah sepanjang tahun, karena hujan yang terus menerus dari Pegunungan Meratus sehingga air meluap di beberapa desa di Kecamatan Batu Benawa antara lain Bakti, Aluan Besar, Aluan Mati dan Simpang Mahar.
Pambakal Bakti Andri Agustia menuturkan akibat dari Banjir telah memutuskan satu jembatan gantung di desanya begitupun tiga jembatan putus terjadi di desa Aluan Besar sehingga akan berdampak mengganggu aktifitas warganya yang menggunakan sarana tranfortasi jembatan tersebut.
"Banjir cukup dalam dalam dari biasanya, air kini sudah 1,5 Meter dan merendam rumah warga, untungnya warga di desa kami sudah melaksanakan panen padi, jadi hasil panen warga terselamatkan," katanya.
Sementara itu Pemerhati Lingkungan dari Lingkar Hijau Murakata Syahdini mengungkapkan kalau terjadinya banjir di kecamatan Haruyan juga dikarenakan masih adanya praktik penebangan liar di daerah Hulu Sungai Haruyan sehingga merusak daerah hutan yang merupakan daerah serapan air.
Selain Penebangan Liar, kata dia adanya penyempitan Sungai Haruyan yang melewati Perusahaan Karet PT Dharma Kalimantan Jaya (PT.DKJ) disiring, diduga juga penyebab lainnya dimana idealnya sungai lebarnya 10 meter menjadi 3 meter saja sehingga saat air meluap akan membanjiri kawasan di sekitarnya.
Analisa Kritis ini, katanya terlihat dari air yang banjir yang terparah di daerah simpang empat kota Haruyan saja, sementara daerah sesudah Perusahaan PT DKJ tidak banjir, berarti ada penghambat atau penyempitan Sungai Haruyan yang jalurnya juga melalui areal perusahaan karet tersebut.(Fathurrahman/B)
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.