Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Anggota Komisi IV DPR-RI Habib Nabiel Almusawa berpendapat, tingginya harga udang di pasar internasional menjadi pemicu keberhasilan program revitalisasi tambak barang dagangan dan atau jenis usaha perikanan tersebut.

 
"Karena pemicunya adalah harga maka Pemerintah diminta aktif memantau perkembangan harga, kemudian secara berkala menginformasikannya ke petambak yang sekaligus menawarkan solusi jika harga jatuh," ujarnya, Senin malam.

Dalam keterangan pers kepada wartawan di Banjarmasin, legislator asal daerah pemilihan Kalimantan Selatan itu mengungkapkan, harga udang sepanjang tahun 2013 hingga awal 2014 sangat tinggi.

"Apalagi di akhir 2013 hingga awal 2014, harga udang di tingkat petambak saja di atas Rp100 ribu per kg," ungkap politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.

Oleh sebab itu, bukan hanya petambak udang saja yang semangat, tetangga petambak yang semula tidak memelihara udang jadi ikut-ikutan memeliharanya.

Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) Jawa Barat itu mengemukakan pendapatnya menanggapi keberhasilan program revitalisasi tambak udang yang dilaporkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"KKP melaporkan program revitalisasi tambak udang yang berlansung sejak tahun 2013 berjalan dengan baik. Hal itu terlihat di Jawa Tengah (Jateng)," kutip wakil rakyat tersebut.

Sebagai contoh di Kabupaten Brebes dari semula 20 hektare tambak percontohan berkembang menjadi 417 hektare (ha), Pemalang dari 20 ha menjadi 60 ha, dan Kabupaten Pekalongan dari 20 ha menjadi 720 ha.

Keberhasilan itu, menurut wakil rakyat yang menyandang gelar insinyur dan magister bidang pertanian tersebut, berdampak pada kesejahteraan warga setempat, seperti terjadi penurunan jumlah warga miskin mencapai 75 persen.

"Sekarang ini harga udang di pasar internasional sedang turun 20-30 persen. Begitu pula di tingkat petambak, harganya sudah jatuh di bawah Rp60 ribu per kg," ungkapnya.

Tapi menurut dia, meski harga jatuh, petambak masih untung karena biaya produksinya berkisar Rp35 ribu per kg. "Mestinya KKP meminta petambak agar sebagian keuntungannya ditabung untuk mengantisipasi harga udang jatuh di bawah Rp35 ribu/kg," sarannya.

Kalau harga udang di tingkat petambak di bawah Rp35 ribu/kg, ia memperkirakan, para petambak akan mengurangi, bahkan berhenti memelihara udang. "Saat itu tabungan digunakan untuk membiayai hidup," katanya.

Karena para petambak berhenti, maka suplai udang berkurang dan dampaknya harga akan naik kembali. "Saat itu petambak kembali mendapat insentif untuk berusaha lalu untung dan kembali menabung, begitu seterusnya," ujarnya.

Ia mengingatkan, yang namanya usaha pasti ada pasang surut. KKP mestinya menekankan hal tersebut kepada para petambak.

  "KKP harus benar-benar membina para petambak agar tambak udangnya bisa berkelanjutan. Tidak cuma `seumur jagung` sehingga untuk ke depannya belum jelas," demikian Habib Nabiel.    

Pewarta: Syamsuddin Hasan
Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026