Oleh Imam Hanafi

Kotabaru, (Antaranews Kalsel) - Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, beberapa tahun terakhir sudah terbebas dari penyakit keguguran pada hewan atau "brucellosis", ujar Kepala Dinas Peternakan Kotabaru Asbili.

"Kini di Kotabaru tidak lagi ditemukan sapi yang terjangkit penyakit brucellosis, yang dapat menular kepada manusia yang mengkonsumsi," kata Asbili didampingi Kabid Kesehatan Hewan, Usman Khoiri, di Kotabaru, Kamis.

Secara global, lanjut dia, bisa dikatakan terbebas dari penyakit brucellosis apabila masih ada ditemukan kasus keguguran dibawah dua persen dari populasi ternak.

Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Kotabaru drh. Khairus Saleh, menerangkan, Kotabaru memperketat masuknya sapi dari luar untuk menghindari penyebaran penyakit keguguran pada hewan atau brucellosis.

Diakui, beberapa tahun lalu di Kotabaru telah terjadi sedikitnya lima kasus ditemukan sapi yang terjangkit penyakit keguguran.

Tiga kasus di Sebelimbingan, Pulau Laut Utara dan dua kasus di Langkang, Pulau Laut Timur, sekitar tahun 2.000-an.

"Alhamdulillah, kasusu tersebut tidak sampai menyebar dan langsung dilakukan tindakan pemusnahan ternak, sehingga tidak lagi menjangkit ke ternak lain," tuturnya.

Terpisah, H Faizin, saat menjabat Kepala Badan Pusat Statistik Kotabaru, mengemukakan, populasi sapi populasi sapi potong, sapi perah, dan kerbau di Kotabaru, periode 2011-2013 tumbuh sekitar 1,99 persen, atau bertambah 262 ekor dari 13.173 ekor menjadi 13.435 ekor.

Pertumbuhan populasi sapi di atas satu persen tersebut tergolong baik, dibandingkan daerah lain di Indonesia yang tumbuh minus.

"Secara umum di Kotabaru populasi ternak sapi dan kerbau tumbuh, namun di beberapa daerah kecamatan dari 21 kecamatan di Kotabaru juga terjadi minus," ujarnya.

Faizin menjelaskan, pertumbuhan tertinggi terjadi di Kecamatan Kelumpang Hulu bertambah 388 ekor, Kelumpang Selatan 190 ekor, Pulau Laut Barat dari 2.037 ekor menjadi 2.194 ekor bertambah sebanyak 157, Kelumpang Barat bertambah 155 ekor, dan Pamukan Selatan tambah 103 ekor.

Sedangkan daerah yang mengalami penurunan jumlah sapi terjadi di Kecamatan Kelumpang Hilir, berkurang 370 ekor dari 1.573 ekor menjadi 1.203 ekor, Pamukan Utara minus 190 ekor, Pulau Laut Kepulauan minus 141 ekor, dan Hampang minus 100 ekor.

Secara umum Kotabaru, sudah menjadi daerah yang berswasembada daging, karena populasi sapi dan kerbau yang ada mampu untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Hanya saja tambahnya, sapi-sapi dan kerbau tersebut tersebar di petani, bukan di sentra atau kelompok, dan perusahaan, untuk dikembangkan.



: Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026