Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, diprediksi bakal kehilangan produksi pertanian paling besar akibat kenaikan permukaan air laut minimal mencapai Rp643 miliar.

Prediksi tersebut berdasarkan hasil penelitian dan kajian tim ahli dewan ketahanan pangan Kalsel yang disampaikan akademisi Unlam Banjarmasin, Raihani Wahdah di Banjarmasin, Minggu.

Menurut dia, berdasarkan hasil analisa tim ahli yang berjumlah delapan orang dengan koordinator Yunus Jarmie, Batola merupakan daerah dengan kehilangan produksi pertanian sekitar Rp643 miliar bila permukaan air laut naik hingga 0,5 meter.

Nilai kerugian tersebut menjadi jauh lebih besar diperkirakan mencapai Rp976 miliar bila kenaikan permukaan laut mencapai dua meter, katanya.

Sedangkan kehilangan produksi pertanian terbesar kedua, kata dia, diprediksi terjadi di Kabupaten Banjar mencapai Rp96-Rp488 miliar lebih bila kenaikan permukaan air laut setinggi 0,5-2 meter.

Raihani mengatakan, berdasarkan model prediksi Susandi pada 2004, kenaikan muka air laut sebesar 0,4 meter akan terjadi pada 2050 dan naik satu meter terjadi pada 2100, apabila daerah tidak melakukan upaya sama sekali untuk mencegah hal tersebut.

"Mungkin hilangnya produksi padi tersebut masih cukup lama dan kita tidak akan menemuinya, tetapi sebagai tanggung jawab kepada keselamatan lingkungan dan kelestarian hidup anak dan cucu ancaman itu harus segera diantisipasi," katanya.

Menurut Raihani pemerintah pusat telah membentuk dewan nasional perubahan iklim. Namun sayang, organisasi tersebut belum disikapi atau ditindaklanjuti didaerah termasuk Kalsel.

Dikatakan pemerintah daerah diharapkan segera membentuk kelompok kerja untuk menyikapi dan mengantisipasi adaptasi perubahan iklim yang merupakan gugus lintas sektoral.

Secara lengkap estimasi kehilangan lahan pertanian yang disebabkan kenaikan muka air laut di Kalsel masing-masing Kabupaten Banjar bakal kehilangan sekitar 14,26 persen bila kenaikan air muka laut 0,5 meter dan 72,35 persen bila naik 2 meter dengan luas sawah 68,792 hektare.

Paling parah, kata Raihani, adalah Kota Banjarmasin yang akan tenggelam atau kehilangan lahan pertanian hingga 100 persen dari total lahan 2.470 hektare bila kenaikan permukaan laut dua meter serta 74 persen bila naik satu meter dan 2,34 persen bila naik 0,5 persen.

Batola merupakan kabupaten dengan potensi pertanian terbesar di Kalsel. Daerah ini memiliki areal persawahan sampai 121.521 hektare dan diperkirakan bakal kehilangan 60,68 persennya bila permukaan air laut naik 0,5 persen dan 92 persen bila naik dua meter.

Kotabaru, kata dia, dengan luas lahan pertanian 17.362 hektare akan kehilangan 78,37-85,07 persen areal persawahannya bila permukaan laut naik 0,5-2 meter, Tanah Bumbu akan kehilangan 28,02-98,77 persen luas sawahnya yang kini mencapai 16.840 hektare.

Selanjutnya, Tanah Laut kehilangan antara 5,25-98,77 persen dari areal persawahan seluas 33.287 hektare dan sisanya yang sebagian merupakan daerah dataran tinggi berdasarkan estimasi tidak akan terpengaruh dengan kenaikan permukaan laut tersebut.

Daerah dataran tinggi tersebut yaitu Balangan dengan luas sawah 20.548 hektare, Kota Banjarbaru merupakan satu-satunya daerah yang tidak memiliki lahan persawahan, Hulu Sungai Selatan 40.245 hektare, Hulu Sungai Tengah, 27.201 hektare dan Hulu Sungai Utara luas sawah 10.849 hektare.

Selain itu Tabalong dengan luas sawah 27 ribu hektare lebih dan Tapin seluas 55.772 hektare


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026