Oleh Imam Hanafi



Kotabaru,  (Antaranews.Kalsel) - Perusahaan Listrik Negara siap membangun kabel distribusi di dasar laut, apabila benar ada investor yang siap memproduksi daya dan menjualnya ke PT PLN, ujar Manajer PT PLN Cabang Kotabaru, Kalimantan Selatan, Basuki Rahman.

"Kalau investor tersebut serius, sekitar 2015 PLN siap membangun kabel di dasar laut untuk mendistribusikan listrik ke Pulaulaut atau Kalimantan," kata Basuki, Sabtu.

Menurut Basuki, investor tidak perlu khawatir listrik yang diproduksi dan berlebih itu tidak ada yang membeli.

Berapapun daya yang dijual, PLN siap membelinya untuk disalurkan kepada masyarakat, di Kotabaru dan sekitarnya.

Kesiapan PLN membangun jaringan distribusi di dasar laut, menyikapi kekhawatiran Manajer Operasional PT Sebuku Iron Lateritik Ores (SILO), Hendry Yulianto, apabila pihaknya membangun power plant untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dan listrik kelebihannya tidak dapat dijual.

Basuki menegaskan, saat ini PLN menawarkan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang memproduksi listrik dengan sistem Energi Baru Terbarukan (EBT).

"Salah satu tujuan kerja sama tersebut agar PLN bisa melayani masyarakat di pelosok-pelosok desa yang belum mendapatkan pelayanan listrik dari PLN," katanya.

Basuki mengimbau kepada perusahaan-perusahaan yang memproduksi listrik, dan berlebih untuk dijual ke PT. PLN dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah, yakni, Rp852,8 per kwh.

Listrik yang dibeli PLN dari perusahaan tersebut akan dijual kepada masyarakat yang belum mendapatkan pelayanan listrik dari PT. PLN dengan harga subsidi pemerintah yakni, Rp700 per kwh.

PLN tidak akan mengambil keuntungan apapun dari masalah tersebut, karena sebagai Badan Usaha Milik Negara PLN bertekad memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat luas.

Menurut Basuki, akhir-akhir ini mulai bermunculan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di daerah, mereka memproduksi listrik sendiri dan berlebih.

Pabrik PKS minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) tersebut. memproduksi listrik dengan menggunakan bahan bakar limbah sawit berupa cangkang kelapa sawit.

Terpisah, Hendry mengatakan, SILO Group membutuhkan investor yang bersedia membangun pembangkit listrik kapasitas 300 MW, karena tidak semua pembangunan industri peleburan bijih besi di Pulau Sebuku dibiayai oleh perusahaan.

Pada beban puncak, industri memerlukan daya yang besarannya sekitar 300 MW, setelah itu daya yang diperlukan akan turun, dan setelah melewati beban puncak, daya yang cukup besar tersebut bisa didistribusikan dan dimanfaatkan oleh pihak lain.

Ada kemungkinan perusahaan perlu pihak ketiga khusus untuk penyediaan listrik, karena listrik yang diproduksi bisa diserahkan ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk dijual kepada masyarakat.

"Tetapi apakah jaringan PT PLN Kotabaru sudah interkoneksi dengan yang lain, dikhawatirkan jaringan PLN Kotabaru masih terkotak-kotak sehingga daya yang sudah diproduksi tersebut tidak bisa dimanfaatkan," katanya.


: Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026