Banjarmasin, (Antaranews Kalsel ) - Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa laju inflasi di Kota Tanjung Kalimantan Selatan Januari 2014, capai 2,35 persen dimana angka tersebut menduduki peringkat tertinggi dari sembilan kota penghitung inflasi di Kalimantan.
Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah II (Kalimantan) Mokhammad Dadi Aryadi di Banjarmasin, Selasa mengatakan, tingginya tingkat inflasi di kota tambang tersebut, menjadi perhatian oleh seluruh pihak terkait, termasuk Bank Indonesia.
Menurut Dadi, sejak Januari 2014, Kota Tanjung (Tabalong) telah ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai kota yang dihitung inflasinya untuk Nasional.
Di provinsi Kalimantan Selatan, Kota Tanjung menjadi kota kedua setelah Banjarmasin yang menjadi bagian dari perhitungan inflasi nasional.
Secara nasional, tambah Dadi, bobot inflasi untuk Kota Tanjung sebesar 0,11 persen, sementara Kota Banjarmasin sebesar 1,38 persen.
"Dengan demikian inflasi Kota Tanjung berkontribusi sebesar 7,4 persen terhadap inflasi Kalimantan Selatan," katanya.
Dengan kondisi perekonomian yang dinamis, tambah Dadi, Tanjung layak menjadi salah satu kontributor perhitungan inflasi nasional.
Menurut dia, perhatian khusus terhadap perkembangan ekonomi di Tanjung perlu ditingkatkan pascapenetapan sebagai kota penghitung inflasi tersebut.
Beberapa langkah yang akan ditempuh antara lain adalah, koordinasi dengan tim pengedalian inflasi daerah (TPID).
"Bank Indonesia, sebagai lembaga negara yang memegang amanat mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, sangat berkepentingan untuk membantu daerah dalam mengendalikan laju inflasi," katnaya.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan inflasi tersebut, antara lain melalui program 6M sebagaimana yang dirumuskan TPID Provinsi Kalsel untuk mengendalikan inflasi.
Program 6M tersebut yaitu, meningkatkan produksi pangan di Kalsel, memperlancar distribusi barang melalui perbaikan infrastruktur, memberi kepastian ketersediaan energi, memperkuat kelembagaan dan koordinasi TPID Kota/ Kabupaten, meningkatkan kerjasama perdagangan antar daerah dan meningkatkan diseminasi/ informasi kepada publik.
Selain di Kota Tanjung, pemantauan dan pengelolaan inflasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah II (Kalimantan) di Kalimantan Selatan juga dilakukan dengan beberapa kota lainnya.
Saat ini, dari 13 kota/kabupaten di Kalimantan Selatan, 10 kota/kabupaten telah membentuk TPID yaitu Banjarmasin, Tabalong, Balangan, Banjar, Banjarbaru, Kotabaru, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu.
Dengan demikian, hanya tersisa 3 kota yang dalam proses penjajakan pembentukan TPID yaitu Barito Kuala, Hulu Sungai Tengah, dan Tapin.
Jumlah TPID yang tersebar hampir di seluruh Wilayah Kalimantan Selatan tersebut menunjukkan tingginya kesadaran dan kesungguhan Pemerintah Daerah di Kalimantan Selatan dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan perekonomian di Kalimantan Selatan.
Selain itu, sebagai upaya pengendalian inflasi kini BI juga melakukan monitoring perkembangan harga barang dan jasa, melalui kegiatan Survei Pemantauan Harga (SPH) secara rutin seminggu sekali di beberapa pasar tradisional dan pasar modern di Kota Banjarmasin.
Pemantauan harga mingguan tersebut merupakan salah satu alat yang dapat dijadikan "early warning system", apabila terjadi perubahan harga (kenaikan harga) komoditas pangan strategis yang signifikan sehingga dapat dijadikan informasi awal oleh TPID guna tindak lanjut pengendalian inflasi.
Bank Indonesia, juga berencana melakukan survei pemantauan harga serupa di Kota Tanjung untuk memonitor perkembangan harga di Kalsel secara lebih komprehensif.
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.