Data makro merupakan hasil survei saja, sedangkan data mikro, biasanya dari data registrasi, sehingga bisa lebih besar lagi,
Amuntai (ANTARA) - Peringatan Hari Buruh se Dunia (May Day) yang jatuh pada 01 Mei tahun ini diwarnai kekhawatiran akan dampak Pandemi Virus Corona Disease 2019 (COVID 19) terhadap keberlangsungan berbagai jenis usaha kecil dan menengah dan terjadinya pemutusan tenaga kerja.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) menyebutkan angka kemiskinan secara makro di HSU 2019 sebanyak 15.398 jiwa.

"Data makro merupakan hasil survei saja, sedangkan data mikro, biasanya dari data registrasi, sehingga bisa lebih besar lagi," ujar pejabat BPS HSU Eko Wahyu Lestari di Amuntai, Jum'at.

Dampak COVID 19 dikhawatirkan akan meningkatkan angka kemiskinan ini, khususnya bagi masyarakat yang berada pada tingkat ekonomi menengah kebawah yang rawan melorot ke garis kemiskinan.

Berdasarkan matriks dampak dan kebutuhan Industri Kecil Menengah (IKM) dalam rangka penanganan COVID 19 disebutkan sebanyak  2571 IKM di Kabupaten HSU yang menampung tenaga kerja sebanyak 3560 jiwa telah terdampak wabah COVID 19 dengan kerugian total ditaksir mencapai Rp7,2 miliar.
 
Para perajin turut terdampak.COVID 19. (Antaranews Kalsel/Diskominfo HSU/Eddy A)

Jenis IKM yang terdampak yakni 1440 kerajinan purun, 324 kerajinan meubel aluminum, 207 usaha kue basah, 193 usaha krupuk, 142 kerajinan meubel kayu, 78 kerajinan eceng gondok,  67 usaha kue kering, 50 usaha kerajinan lupu (rotan merah), 29 usaha keripik, 24 usaha pembuatan roti dan 17 pembuatan tahu tempe.

Data dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM HSU menyebutkan dampak kerugian yang dialami IKM disebabkan terjadinya penurunan omzet penjualan akibat penurunan daya beli masyarakat, sementara biaya produksi mengalami kenaikan disebabkan kenaikan harga bahan baku.

IKM juga mengalami hambatan pengiriman barang karena adanya penerapan Social dan Phisical Distancing, pemberlakuan PSBB, pengawasan arus masuk kedaerah lain diperbatasan dan sebagainya.

Hasil pendataan dan survey tersebut juga merekomendasikan kepada pemerintah daerah agar menstabilkan harga dan menjamin ketersediaan bahan baku serta sarana distribusi pemasaran sehingga pelaku IKM bisa tetap melanjutnya usahanya.

Namun terkait, usaha yang 'gulung tikar' atau stop sementara berproduksi belum ada laporan resmi dari Dinas Penanaman Modal, PTSP dan Tenaga Kerja maupun dari Dinas Perindagkop dan UKM Kabupaten HSU.

Sebaliknya beberapa usaha komoditas lain dilaporkan justru berkembang seperti usaha produksi masker kain yang bermunculan dibeberapa kecamatan.
Bupati HSU H Abdul Wahid HK (Antaranews Kalsel/Diskominfo HSU/Eddy A)


Bupati HSU H Abdul Wahid HK mengatakan pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk penanganan wabah COVID 19, pemberian bantuan sosial dan menstabilkan ekonomi sebesar Ro200 miliar.

"Anggaran tersebut diperoleh dari hasil pergeseran anggaran dana belanja barang dan jasa, perjalanan dinas dan pembangunan fisik di 2020," kata Wahid.

 

Pewarta: Eddy Abdillah
Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026