Kawasan Labuan Amas Utara yang memiliki lahan rawa yang selama ini masih kurang produktif dan belum dimanfaatkan secara optimal menjadi sasaran untuk kesejahteraan masyarakat itu.
Beragam pendapat mengundang Bupati HST H. Harun Nurasid menanggapi secara bijak. "Janganlah menyimpulkan pernyataan dimasyarakat bahwa apa yg akan dilaksanakan pemerintah membukalahan kelapa sawit berdampak buruk," katanya.
"Pemerintah tidak akan sembarangan mengambil kebijakan, kalau dibukanya lahan kelapa sawit bisa menguntungkan warga HST kenapa kita mesti tidak menjalankannya," katanya.
Menurut dia, derbeda pendapat boleh namun tidak merugikan pihak lain jangan hal ini menjadikan perpecahan. Pemerintah siap dikritik.
Lahan rawa yang ada lebih dari 15 ribu hektare disamping di Kecamatan Labuan Amas Utara juga terdapat di Labuan Amas Selatan dan Pandawan.
Lahan itu memiliki karakter yang sama dan tanahnya terkenal subur. Pada musim kemarau petani membuka lahan untuk bertanam padi, jagung dan tanaman lain seperti biasa lahan rawa sehari-harinya adalah tempat yang kaya ragam ikan tawar yang ditangkap warga dengan peratalan tradisional untuk keperluan keluarga maupun di jual.
Rencana Pemkab HST membuka perkebunan sawit diwarnai beragam pendapat berkaitan apsek aturan, dampak alam, dampak sosial, komitmen perusahaan terhadap kepentingan rakyat dan ekonomi.
Pendapat datang dari jajaran Pemkab HST, anggota DPRD HST, akademisi dan aktifis lingkungan, pers dan tokoh masyarakat.
Kepala Dinas Hutbun Syaiful Bahri mengatakan, aspek lingkungan terutama bagaimana mengatur air dengan membuat saluran air, tabat, jembatan dan fasiltas penunjang menjadi hal utama yang diperhatikan dalam mengembangkan lahan sawit.
Karena itu pula potensi perikanan dan pertanian tidak akan diganggu bahkan didorong untuk semakin ditingkatkan.
“Belum menghasilkan saja penanaman seluas lima ribu hektare sawit menyerap 10 ribu tenaga kerja apalagi bila pabrik berdiri," katanya.
Disamping itu masyarakat dapat membudidayakan ikan secara besar-besaran di parit-parit dan tabat yang dibuat sambil menanam padi, sayur-sayuran dan palawija disekitar bukaan lahan sawit yang sebelumnya tidak optimal, jelasnya.
Athailllah Hasbi anggota komisi III DPRD HST menyampaikan dukungan atas rencana pembukaan sawit dilahan 15 ribu hektare di Labuan Amas Utara.
"Keberpihakan pemerintah dan perusahaan sawit kepada kepentingan rakyat haruslah prioritas utama, jangan keberadaan kebun sawit mengancam ekosistem dan merugikan rakyat," katanya.
H. Gabau (75) tokoh masyarakat Desa Sungai Buluh Kecamatan Labuan Amas Utara mendukung terobosan Pemkab yang memberi lampu hijau kepada investor membuka perkebunan sawit di kampungnya.
“Jika tidak mendukung program yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat itu namanya aneh†ujarnya.
Untuk melaksanakan perkebunan sawit dimulai dengan melakukan studi banding ke Barito Kuala dan Tanah Laut.(Humas HST/A)
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.