Barabai, (Antaranews Kalsel) - Harga karet di Kalimantan Selatan mulai naik dari sebelumnya Rp10 ribu kini menjadi Rp11.500 per kilogram, sehingga petani mulai melepas stok yang dimiliki.
Manajer Operasional PT Dharma Kalimantan Jaya Haruyan, H Mas`adi di Barabai, Selasa, mengungkapkan, setelah beberapa waktu harga karet mengalami kelesuan akibat menurunya harga jual, kini petani kembali melepas stok yang dimiliki.
Menurut dia, para petani sebelumnya menahan atau tidak menjual getah karet karena harganya hanya sekitar Rp10 ribu. Namun kini mereka telah kembali menjual stok karet yang ada saat harganya berangsur normal.
"Kondisi ini juga sangat menguntungkan kami karena mampu meningkatkan pembelian karet menjadi 100 hingga 150 ton per hari, sebelumnya jauh di bawah angka tersebut," katanya.
Mas`adi mengungkapkan, pemasok karet banyak datang dari luar daerah seperti dari Kalimantan Tengah, Ampah dan Rantau. Sementara karet lokal masih kurang, hal ini terjadi diduga karena banyak petani yang menjual ke perusahaan lain.
Selain itu jumlah produksi dan pola kerja petani lokal yang masih cukup rendah sehingga perlu ditingkatkan.
"Sebenarnya mutu karet sama saja dari dulu hingga sekarang, yang perlu ditingkatkan itu produksi karet lokal," katanya.
Selain itu, tambah dia, perlu keseriusan dari seluruh pihak terkait, terutama Pemerintah Kabupaten HST untuk membantu dan mendorong petani memperbaiki kualitas karet sepuluh tahun mendatang.
Rendahnya kualitas karet lokal, tambah dia, juga masih banyak dijumpai hingga kini, sehingga tidak jarang perusahaan terpaksa mengembalikan karet yang telah dibeli.
Rendahnya kualitas yang diketahui setelah dilakukan seleksi tersebut antara lain karena karet yang dijual bermasalah. Hal tersebut disebabkan setelah dilakukan seleksi, karet dipotong 3 namun di dalamnya terkontaminasi plastik, pasir dan tanah.
"Jadi karet yang tidak bersih tersebut terpaksa kami kembalikan," katanya.
Petani karet setempat Adul mengatakan, sangat bergembira mulai membaiknya harga karet sehingga pihaknya tidak terlalu lama menyimpan komoditas tersebut.
"Tidak memungkinkan kami menahan stok karet terlalu lama, mengingat banyaknya keperluan rumah tangga yang bergantung pada penjualan karet ini," katanya.
Walaupun kenaikan saat ini menurutnya masih belum menguntungkan petani, namun petani terpaksa tetap menjual ke pengumpul dan pengumpul menjual lagi ke pabrik.
"Kami belum bisa menjual karet langsung ke perusahaan karena keterbatasan modal dan sarana," katanya.
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.