ANTARA WANITA KARIR DAN ASI Oleh Imam Hanafi

Khusus di Indonesia banyak yang sepakat bahwa sejak lahirnya Kartini dinilai telah berhasil memasang tonggak sejarah, di mana hak-hak kaum wanita mulai diperjuangkan sederajat dengan kaum pria.

Kartini yang lahir pada jaman penjajahan itu tidak terima jika kaumnya dibatasi kebebasaanya.

Tantangan dan rintangan yang sangat berat dihadapi Kartini untuk memperjuangkan hak-hak wanita agar dapat sejajar dengan kaum pria.

Pengakuan akan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan yang diperjuangkan oleh Kartini tersebut kini lebih dikenal dengan emansipasi wanita.

Sejak saat itu wanita mulai memiliki kesempatan yang sama dengan pria, baik dalam menuntut ilmu hingga meniti karir, begitu juga dengan berkarya mulai dari tukang sapu hingga menjadi presiden.

Di Indonesia sendiri kini tidak dapat disebutkan satu persatu kaum wanita yang sukses dalam karirnya, seperti menjadi menteri, anggota DPR, bahkan presiden. 
Tidak semua hak yang melekat pada kaum pria juga harus dimiliki oleh kaum wanita, sebab secara kodrat wanita dan pria adalah berbeda.     

Banyak masyarakat setuju kalau wanita dianggap sebagai mitra sejajar kaum pria, tetapi dalam hal profesi, tidak semua profesi kaum pria dapat diambil alih oleh kaum wanita.

Wanita diciptakan Allah SWT untuk melahirkan dan menyusui bayinya, sedang kaum pria tidak demikian adanya.

Namun belakangan ini, sebagian masyarakat telah keliru memaknai hakekat dari emansipasi wanita, khususnya untuk kalangan tertentu saja, di mana wanita mulai meninggalkan kodrat kewanitaanya, misalkan, menyusui bayinya.

Selain karena memiliki penyakit yang dikhawatirkan akan menular, wanita karir juga menduduki peringkat sekian dari beberapa alasan wanita tidak menyusui bayinya.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kotabaru drg Cipta Waspada ada
beberapa sebab kenapa wanita tidak menyusui bayinya, selain dari yang dua diatas, gaya hidup yang modern juga menjadi alasan kenapa wanita tidak mau menyusui bayinya.

Sebagian wanita cukup bangga dan merasa sudah modern dengan apabila memberikan susu buatan pabrik atau dari sapi untuk bayinya.

Dengan era modern, wanita karir banyak yang enggan menyusui bayi yang dilahirkannya dengan berbagai alasan, seperti, takut susunya 'ngglower' (kendur), atau tidak sempat menyusui bayinya karena tidak punya waktu cukup.

Para wanita karir tersebut mempercayakan bayinya untuk disusui sapi, dengan menggunakan susu formula atau susu yang lainnya, daripada disusui sendiri.

"Padahal, sebaik-baik susu sapi dan selengkap-lengkap kandungan susu kemasan, masih lebih baik dari air susu ibu (ASI)," kata Cipta Waspada.

Selain kualitasnya lebih baik dari semua jenis susu yang dijual dipasaran, menggunakan ASI lebih efektif, lebih sehat, dan lebih murah dibandingkan dengan susu sapi atau yang lainnya.

Bahkan bayi yang minum ASI memiliki daya tahan tubuh jauh lebih kuat dari bayi yang minum susu sapi.

"Bayi yang minum ASI tidak mudah terserang penyakit, dan memiliki kecerdasan lebih baik," ujarnya.

Untuk melawan itu semua, Pemkab Kotabaru melalui Dinas Kesehatan setempat kini sedang giat-giatnya mensosialisasikan kepada masyarakat betapa pentingnya ASI untuk bayi dan balita.

Melalui media cetak dan elektronik, serta majelis-majelis ta'lim dan kegiatan yang lainnya, petugas kesehatan dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) tidak henti-hentinya menerangkan betapa penting dan manfaat ASI bagi bayi.

Tidak hanya itu, kata Cipta, pihaknya juga akan memberikan sanksi tegas kepada para bidan atau petugas kesehatan yang menjual susu formula atau yang lainnya kepada bayi yang berumur 0-6 bulan.

"Sanksi tegas tersebut bisa berupa pencabutan izin praktek bagi bidan," tegasnya.

Para bidan di Kotabaru telah dibekali pengetahuan cukup tentang manfaat ASI eksklusif terhadap pertumbuhan, kecerdasan, ketahanan bayi dan yang terpenting pembentukan mental bayi.

"Idealnya, para ibu dapat menyusui balitanya hingga dua tahun," terangnya.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kotabaru itu, saat ini tingkat kesadaran ibu menyusui mencapai kisaran 40 persen, jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Kendati demikian, Cipta mengaku masih kurang puas atas pencapaian tersebut.

Ia bersama staf dan bidan desa, bidan puskesmas serta petugas kesehatan yang lainnya tidak henti-hentinya mensosialisasikan gerakan ibu menyusui hingga dua tahun.

Untuk mendukung program tersebut, Cipta berkeinginan untuk membantu mencari dokter spesialis anak untuk masyarakat Kotabaru.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh dokter spesialis anak dalam membantu meningkatkan kesadaran kaum ibu agar mau menyusui bayinya hingga dua tahun.

Namun keinginan tersebut masih belum dapat diwujudkan, karena hingga saat ini Kotabaru belum memiliki dokter spesialis anak pascameningglnya dr Uri genes mangelik SPA beberapa tahun lalu.

Bahkan Cipta mengaku telah menemui beberapa orang dokter spesialis di Pulau Jawa dan daerah lainnya, namun mereka yang ditemui masih belum memberikan jawaban pasti bersedia tugas di Kotabaru.

"Sesibuk apapun hari-hari kami, menyusui bayi adalah hal yang utama, kami tidak rela bayi kami hanya mengkonsumsi susu sapi atau susu buatan pabrik," kata seorang ibu yang juga seorang PNS di lingkungan pemkab Kotabaru, Siti.

Siti mengaku dari tiga orang anaknya itu semuanya disusui hingga dua tahun, selebihnya menggunakan susu buatan pabrik.

Ia mengakui, ada beberapa perbedaan bayi yang disusui dengan ASI dan dengan susu buatan pabrik.

Kendati di kantornya ia mendapatkan tugas dan tanggungjawab seperti layaknya PNS lainnya, Siti tetap menyempatkan diri pada jam-jam tertentu minta izin kepada pimpinannya untuk pulang menyusui bayinya.

Ibu dari tiga orang anak yang juga PNS di lingkungan Pemkab Kotabaru, Hayati, mengakui mental dan psikologi anak yang mendapatkan ASI sungguh berbeda dengan bayi yang murni menggunakan susu buatan pabrik.

"Naluri ibu bisa membedakan anak yang khusus mengkonsumsi ASI dan anak yang saat bayi hanya menggunakan susu buatan pabrik," terangnya.

Keinginan memberi ASI eksklusif kepada bayinya, tidak mulus begitu saja, tetapi banyak rintangan dan hambatan, baik dari dalam diri maupun dari lingkungan kerjanya.

Apabila pekerjaan menumpuk, Ia tidak sampai hati minta izin untuk pulang menyusui bayinya, ditambah dengan komentar rekan sejawatnya menambah kuat niatnya untuk membatalkan keinginnya pulang menyusui bayinya.

Kondisi seperti itu sering ia alami, dan ia sering mencari-cari seorang psikolog, namun tidak pernah ia temukan.

Hingga saat ini di Kotabaru belum memiliki psikologi, meski Kotabaru merupakan satu dari beberapa daerah yang sedang berkembang di kalimantan Selatan.

Karena tidak ada psikolog tersebut, dia memanfaatkan informasi dari koran, majalah dan buku serta acara di stasiun televisi yang menjelaskan betapa pentingnya ASI eksklusif.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026