"Kegiatan zero survei sengaja diarahkan kepada masyarakat umum untuk mengetahui tingkat penularan AIDS di tengah masyarakat," ujar Sekretaris KPA Banjarbaru Edi Sampana di Banjarbaru, Selasa.
Menurut dia, selama ini zero survei dilakukan terhadap kalangan yang berpotensi terserang AIDS seperti pekerja seks komersial, penghuni lembaga pemasyarakatan maupun pengguna obat-obatan terlarang.
Namun, kata dia, zero survei sebagai salah satu cara yang digunakan untuk mendeteksi penularan AIDS perlu dilakukan kepada masyarakat umum sehingga diketahui sejauh mana penularan penyakit yang belum ada obatnya itu.
Apabila tingkat penularan AIDS di tengah masyarakat tergolong tinggi maka kondisi tersebut harus diwaspadai sehingga penularannya tidak semakin berkembang.
"Jika persentase penularan dikalangan berpotensi besar mencapai lima persen dari 100 orang yang mengikuti zero survei, itu biasa tetapi jika per 100 orang masyarakat diatas satu persen maka sudah berbahaya," ungkapnya.
Dikatakan, zero survei yang dilakukan terhadap masyarakat tidak dikenakan biaya bahkan pihaknya bersama petugas konselor siap mendatangi tempat yang disiapkan masyarakat untuk menjalani survei tersebut.
"Petugas konselor siap datang ke tengah-tengah masyarakat dan siap memenuhi permintaan kelompok masyarakat tetapi diharapkan jumlahnya minimal 100 orang sehingga bisa diketahui persentase hasil survei," ujarnya.
Dijelaskan, sesuai prosedur zero survei maka identitas setiap anggota masyarakat yang menjalani tes dirahasiakan sehingga tidak perlu takut ketahuan sebagai penderita AIDS apabila hasilnya positif.
"Identitas mereka yang mau menjalani pemeriksaan sangat dirahasiakan dan setiap peserta yang diambil sedikit darahnya kemudian diteliti di laboratorium apakah negatif atau positif," kata dia.
Ditambahkan, selain kegiatan zero survei pihaknya juga siap mensosialisasikan penyakit AIDS kepada kelompok masyarakat yang menginginkan kedatangan petugas ke tempat mereka.
"Untuk kegiatan sosialisasi kami mengharapkan jumlah masyarakat yang hadir minimal 50 orang sehingga materi yang disampaikan petugas bisa didengarkan banyak orang dan bisa disebarkan ke orang lain," katanya.
Sementara itu, data yang dihimpun KPA Banjarbaru secara kumulatif sejak 2002 terdapat sebanyak 34 orang penderita yang positif terkena HIV termasuk delapan orang penghuni eks lokalisasi tersebut.
Sedangkan penderita yang positif terserang penyakit AIDS sebanyak 12 orang namun tidak diketahui apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal karena riwayat kesehatannya tidak terdata.(Rzl/A)
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.