Oleh Yose Rizal

Martapura, (Antaranews Kalsel) - Industri Wood Pellet di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, yang dibangun atas kerja sama dengan Korea Selatan segera beroperasi memenuhi permintaan ekspor ke negara itu. 


Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar Nasrun Syah di Martapura, Selasa mengatakan, peresmian industri yang memanfaatkan sisa kayu menjadi barang ekspor itu dijadwalkan tanggal 8 Juli 2013.

"Peresmian menandai operasional industri Wood Pellet dijadwalkan tanggal 8 Juli 2013 dan diharapkan mampu memenuhi permintaan ekspor pengolahan sisa kayu yang cukup banyak terdapat di Kabupaten Banjar," ujarnya.

Ia mengatakan, industri pengolahan sisa kayu yang segera beroperasi di Kabupaten Banjar merupakan industri kedua yang dimiliki Indonesia, satu lagi beroperasi di pulau Jawa yang juga bekerjasama dengan Korea Selatan.

Dijelaskan, industri pengolahan kayu itu memanfaatkan sisa-sisa kayu dalam berbagai bentuk baik serbuk kayu maupun ranting pohon seperti pohon karet yang sudah dipotong-potong lalu diolah dan di ekspor ke Korsel.

"Pengolahannya menghasilkan cetakan kayu yang bentuknya seperti pellet atau makanan ikan dan di ekspor ke Korea untuk diolah menjadi barang kebutuhan di negara tersebut," ungkapnya.

Menurut dia, Pemkab Banjar siap memfasilitasi pemangku kepentingan di bidang usaha perkaretan agar dapat menjalin kerja sama dengan Korsel untuk mendukung kelancaran pasokan industri Wood Pellet tersebut.

"Pemkab siap membantu pengusaha karet menjalin kerja sama dengan Korsel dan diharapkan sisa potongan kayu dari pohon karena bisa dimanfaatkan dan di olah menjadi barang yang lebih berguna," ujarnya.

Dikatakan, selain sisa potongan kayu dan ranting, limbah kayu lainnya yang masih bagus bisa di jual kepada salah satu perusahaan penghasil kayu vinir (veneer) di Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar.

"Sisa kayu vinir bisa dimanfaatkan lagi sebagai bahan baku Wood Pellet dan kami sudah menyakinkan pihak Korsel bahwa bahan baku kayu karena di sini cukup banyak untuk mendukung industri itu," kata dia.

Ditambahkan, bahan baku sisa kayu pohon karet bisa diperoleh dar PTP Danau Salak di Kecamatan Astambul yang memiliki sekitar 300 hektare lahan karet yang diremajakan setiap tahun agar produksi latek meningkat.

Pihaknya juga meminta perbankan mendukung industri pengolahan sisa kayu itu dan mengharapkan bantuan bagi petani karet di permudah sehingga mereka bisa menjaga dan memelihara pohon karetnya.

  "Kami berharap perbankan memberikan kemudahan bagi petani karet mendapat bantuan modal sehingga mereka bisa mengembangkan usaha sekaligus menjaga harga karet tetap stabil," katanya.   


Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026