Oleh Imam Hanafi

Amuntai, (Antaranews.Kalsel) - Kecanggihan peralatan multimedia saat ini, ternyata cukup meresahkan sejumlah ulama di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, karena memiliki potensi merusak moral generasi muda.

"Maraknya pergaulan bebas di kalangan anak-anak, dan kurangnya keteladanan di lingkungan keluarga, merupakan salah satu dampak negatif adanya multimedia," kata Ustadz KH Mugni, di Amuntai, Senin.

Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, lanjut dia, maka anak-anak kita saat menghadapi tantangan yang sangat berat dalam menghadapi era multimedia, di mana arus informasi cukup cepat, dan mudah diakses yang tidak terbatas ruang dan waktu.

Berbagai peralatan multimedia, seperti televisi, telepon genggam, internet, dan dunia maya, banyak menyajikan tontonan yang tidak layak dinikmati oleh mereka yang masih berusia belia.

Sedangkan tontonan-tontonan tersebut tidak bisa dibatasi, karena semakin canggih dan beragamnya peralatan multimedia saat ini, seperti halnya, telepon genggam.

"Saat ini para orangtua, dan guru di sekolah cukup kesulitan mengontrol apa yang ditonton oleh anak," ujar Mugni.

Karena berbagai tayangan televisi hingga internet saat ini sudah bisa di akses melalui hp.

Ia juga mengecam kehidupan yang semakin permisive saat ini, di mana kontrol keluarga dan masyarakat semakin longgar terhadap pergaulan remaja yang terkesan mulai bebas.

Demikian juga akibat mobilitas, dan kesibukan kerja terkadang melalaikan para orangtua, untuk memerikan contoh keteladanan yang baik kepada anak-anak.

Ustadz muda yang bermukim di Desa Pasar Senin, Amuntai ini, menawarkan solusi untuk mengatasi berbagai masalah terkait dampak kecanggihan multimedia terhadap anak.

Diantaranya, dengan memberikan pengawasan, dan kegiatan yang positif bagi si anak.

"Berikan anak kesibukan lain yang bernilai positif agar mereka tidak terpaku oleh berbagai permainan, dan tontonan yang bersifat negatif," pintanya.

Mugni juga menyarankan agar, anak-anak yang mulai beranjak remaja, agar diberikan aktivitas di luar rumah yang bermanfaat sesuai dengan minat dan bakatnya.

Para orangtua dan guru harus membimbing para remaja agar lebih memilih aktivitas di luar rumah yang lebih bermanfaat.

"Jika anak tidak dibekali pengetahuan agama, maka anak tidak memiliki refrense untuk menilai suatu perbuatan yang benar, dan salah sehingga anak-anak cenderung lebih mudah terjerumus pada perbuatan dan kegiatan yang merusak moral dan kepribadiannya," tandasnya.

Dia menekankan pada aspek keteladanan para orangtua, sebagai motivator terpenting bagi anak-anak untuk berbuat kebaikan, karena anak-anak dan remaja pada umumnya membutuhkan figur untuk digugu dan ditiru.

"Dengan memberikan keteladanan maka anak akan mengikuti seperti apa yang kita lakukan tanpa diperintah" tandasnya lagi.


Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026