Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan menemukan banyak bahan kimia berbahaya yang disalahgunakan di wilayah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Kepala BPOM Kalsel Dewi Prawitasari di Banjarmasin, Kamis, mengatakan, bahan berbahaya yang banyak ditemukan di masyarakat di antaranya bahan pewarna tekstil yang sering disebut oleh warga setempat kasumba, atau wantik.
"Kasumba atau wantik tersebut berbahan rhodamin B, dan kuning metanil, yang kalau dikonsumsi berkelanjutan sangat berbahaya bagi kesehatan," katanya.
Bahan berbahaya lainnya yang banyak ditemukan dalam makanan, adalah boraks (bleng/pijer) serta formalin (pengawet mayat).
Menurut dia, penyebab adanya penyalahgunaan bahan berbahaya dalam penganan di wilayah tersebut karena adanya kemudahan memperoleh bahan kimia itu, disamping rendahnya kepedulian masyarakat terhadap keamanan pangan.
"Mereka yang sering terlihat dalam pengolahan serta sebagai konsumen penganan berbahaya tersebut justru mereka yang berada pada tatanan masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah," katanya.
Untuk mengurangi pemakaian bahan berbahaya tersebut, maka Balai POM menghendaki adanya program pasar aman dari bahan berbahaya.
Pasar aman dari bahan berbahaya itu yaitu sebuah pasar yang di dalamnya terdapat komitmen dan dukungan penuh dari komunitas pasar seperti pedagang, pekerja,pengelola,asosiasi,pemasok, serta masyarakat itu sendiri.
Pasar tersebut juga harus memiliki dukungan untuk membersihkan dari penjualan bahan berbahaya itu dari stakeholder seperti swasta, lembaga swadaya masyarakat, serta pemerintah setempat.
Program pasar aman dari bahan berbahaya difokuskan pada pengendalian bahan berbahaya pada pasar tradisional melalui upaya pemberdayaan komunitas agar mampu secara mandiri membentengi diri dari keluarganya terhadap penyalahgunaan bahan berbahaya pada pengolahan penganan.
"Selain itu, adanya tekad dan keinginan semua pihak untuk menghindari mengkonsumsi pangan yang mengandung bahan berbahaya," kata Prawitasari.
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.