Seorang pemilik lahan di Salino, Syamsul, Rabu, mengemukakan, harga lahan di daerah Salino akhir-akhir ini mencapai Rp400.000 per m2, padahal sebelumnya lahan kosong di wilayah itu hampir tidak ada nilainya.
"Biasanya harga lahan Rp1,5 juta per hektare. Jika dihitung-hitung sangat tidak layak, tetapi itulah kenyataannya," katanya.
Melonjaknya harga lahan hingga di atas 3.000 kali lipat disebabkan isu yang berkembang di masyarakat bahwa di daerah tersebut akan dibangun pelabuhan khusus milik perusahaan bijih besi PT SILO Group.
Informasi yang berkembang di masyarakat, pelabuhan itu nanti untuk bongkar muat batubara dan bijih besi.
Syamsul menambahkan, banyak warga yang mencari lahan di daerah Salino yang dulu merupakan sebuah desa di wilayah pesisir Pulau Laut yang sepi.
Sebelum ada isu akan dibangun pelabuhan, investor dan masyarakat tidak ada yang melirik untuk membeli lahan di daerah tersebut, hal itu membuat lahan di Salino hampir tidak ada nilainya.
Namun sejak ada wacana akan dibangun pelabuhan, masyarakat dan orang luar banyak yang mencari lahan di Salino, meskipun harganya mencapai Rp400.000 per m2.
"Bahkan lahan saya sendiri yang baru saya beli sekitar dua tahun lalu Rp1,5 juta per hektare kini mulai banyak yang menawar, tetapi kami tidak jual," jelasnya.
Asul, seorang warga Kotabaru, menambahkan, jika isu tersebut benar, tidak masalah, tetapi yang dikhawatirkan isu PT ILO akan membangun pelabuhan itu tidak benar.
"Kami khawatir jika itu hanya isu saja, dan akan berdampak buruk terhadap masyarakat," ujar Asul.
Dampak buruk yang dikhawatirkan itu di antaranya, masyarakat tidak lagi bercocok tanam, karena menunggu diterima menjadi karyawan/buruh.
Karena di sekitar Salino banyak warga yang masih menganggur, dan kini mereka mulai giat bercocok tanam dan berkebun.
"Jika isu itu tidak benar, kami khawatir mereka kembali kurang bergairah bertani, dan akhirnya banyak pengangguran dan lahan tidur semakin meluas," paparnya. (C/B)
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.