Batulicin (ANTARA) - Anggota DPRD Tanah Bumbu, Said Ismail Kholil Alydrus memuji dan mengapresiasi atas keberhasilan anggota Satuan Reserse Narkoba Polres Tanah Bumbu, mengungkap modus baru peredaran  narkotika melalui cairan cartridge (katrid) vape.

"Kami menyambut baik dan mengapresiasi kinerja jajaran Polres Tanah Bumbu. Ini langkah nyata melindungi masyarakat dan generasi muda dari bahaya narkoba," kata Said Ismail Kholil Alydrus, di Batulicin, Jumat.

Menurut dia, pengungkapan kasus tersebut merupakan langkah penting dalam melindungi masyarakat, khususnya generasi muda, dari ancaman penyalahgunaan narkotika dengan modus yang semakin beragam.

Pengungkapan tersebut juga menjadi upaya untuk menekan peredaran narkotika di Kabupaten Tanah Bumbu.

"Semoga atas penindakan ini dapat menekan angka penyebaran narkotika di Kabupaten Tanah Bumbu," katanya.

Kapolres Tanah Bumbu AKBP Novy Adi Wibowo menjelaskan, pengungkapan jaringan tersebut bermula dari penangkapan tersangka FRS di Kecamatan Simpang Empat. Dari tangan FRS, polisi mengamankan belasan pil ekstasi.

Baca juga: Tanah Bumbu dorong tata kelola data terintegrasi dan transparan

Petugas kemudian menangkap MRA alias Tungau di Desa Bersujud. Polisi menemukan 127 katrid vape yang disebut berisi obat bius etomidate dengan merek Wanglay dan Thugs.

Pengembangan kasus kemudian dilakukan hingga Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Polisi menangkap DIS alias Iken yang disebut sebagai bandar jaringan tersebut. Dari penangkapan itu, polisi turut menyita 271,01 gram sabu dan puluhan butir ekstasi.

Etomidate merupakan narkotika golongan II yang baru pertama kali terdeteksi di Kalimantan Selatan. Zat tersebut disebut dapat menimbulkan efek halusinasi hingga menyebabkan penggunanya kehilangan kesadaran atau pingsan.

Total barang bukti dalam jaringan tersebut diperkirakan bernilai Rp635 juta. Polisi menduga narkotika tersebut diselundupkan dari Malaysia melalui jalur laut menuju Surabaya, kemudian Banjarmasin hingga Kalimantan Timur.

Baca juga: PKK Tanah Bumbu perkuat peran keluarga wujudkan Indonesia emas.

Peredaran dilakukan secara tertutup melalui komunikasi menggunakan telepon seluler. Setiap katrid disebut dijual dengan harga sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta.

Polisi memperkirakan pengungkapan tersebut dapat menyelamatkan sekitar 387 hingga 645 jiwa. Kasus ini juga disebut sebagai pengungkapan peredaran etomidate dalam jumlah terbesar yang sejauh ini ditemukan di wilayah hukum Polda Kalimantan Selatan.

"Polisi juga mengungkap kasus peredaran obat keras dan menyita 20.155 butir carisoprodol dari dua tersangka lainnya, yakni MI dan FI," tutup Kapolres.



Pewarta: Sujud Mariono
Editor : Sukarli

COPYRIGHT © ANTARA 2026