Banjarmasin, (Antaranews.Kalsel) - Bank Pembangunan Daerah (BPD) seluruh Indonesia selama lima tahun terakhir menunjukan perkembangan yang pesat, terutama jika dilihat dari perkembangan indikator keuangannya.
"Indikator keuangan utama seperti total asset, penyaluran kredit, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan laba bersih selama 5 tahun terakhir terus membaik," kata Ketua Umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Eko Budiyono, dalam siaran pers, Senin.
Perkembangan tersebut dapat dilihat dari berbagai indikator yang berhasil dibukukan oleh BPD seluruh Indonesia.
Per Desember 2012, lanjut Eko, aset BPD telah mencapai Rp368,24 triliun, atau meningkat sebesar 17,01 persen, dibandingkan posisi Desember 2011 yang mencapai Rp305,62 triliun.
Selama lima tahun terakhir meningkat 100,35 persen dibandingkan posisi Desember 2008 yang mencapai Rp183,80 triliun.
Secara konsolidasi, aset BPD seluruh Indonesia per Desember 2012 menduduki peringkat keempat dengan total asset Rp368,24 triliun setelah Bank Mandiri sebesar Rp561,20 triliun, Bank BRI Rp547,60 triliun, Bank BCA Rp436,70 triliun, dan Bank BNI Rp324,80 triliun.
"Kekuatan aset BPD seluruh Indonesia ini menunjukkan, bahwa apabila BPD seluruh Indonesia bersinergi akan menjadi potensi kekuatan yang solid dalam kancah persaingan industri perbankan nasional, serta dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal bagi perekonomian nasional, khususnya di daerah,"paparnya.
Kinerja kredit dalam lima tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, dan Desember 2012, posisi kredit BPD seluruh Indonesia mencapai Rp219 triliun atau meningkat sebesar 127,08 persen dibandingkan posisi Desember 2008 yang mencapai Rp96,44 triliun.
Posisi Dana Pihak Ketiga BPD seluruh Indonesia pada Desember 2012 mencapai Rp284 triliun, meningkat sebesar 98,22 persen dibanding posisi Desember 2008, yang mencapai sebesar Rp143,27 triliun.
Modal Inti telah mencapai Rp32,59 triliun per posisi Desember 2012, meningkat sebesar 113,28 persen dibanding posisi Desember 2008 yang mencapai sebesar Rp15,28 triliun.
Eko yang juga Direktur Utama Bank DKI mengemukakan BPD seluruh Indonesia telah menyalurkan KUR sebesar Rp3,36 triliun dari target sebesar Rp5,098 triliun hingga Desember 2012 yang disalurkan kepada 46.513 nasabah.
Saat ini, melalui kerajsama dengan Savings Banks Foundation for International Coorperation (SBFIC)/ Sparkassen-Jerman, telah dijajaki program Kredit Usaha Mikro, dan 2011 sudah mulai di tiga BPD Pilot Project, yaitu Bank Sumut, Bank BPD DIY, dan Bank Kalbar.
Ketiga BPD ini menyiapkan plafon kredit sebesar Rp323,77 miliar dan sampai dengan posisi Desember 2012, penyaluran KUM mencapai Rp270,24 miliar, disalurkan kepada 11.222 nasabah dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sekitar 3,1 persen.
Selain melalui program KUM dan KUR, yang menjadi prioritas adalah melalui penyaluran kredit Sindikasi.
Saat ini Bank Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/26/PBI/2012 Tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank.
Terkait dengan permodalan ini menjadi permasalahan penting BPD seluruh Indonesia, saat ini beberapa Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota telah menyampaikan komitmennya, untuk meningkatkan modal di BPD.
Namun demikian masih ada beberapa kendala yang dihadapi terkait penambahan setoran modal Pemda ini, khususnya masalah dukungan dari legislatif, dimana untuk penambahan setoran modal masih harus melalui mekanisme yang cukup panjang, yaitu melalui Rapat Paripurna DPRD, baik untuk DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota.
Asbanda pada 3 Desember 2012 telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman, antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Ketua Umum Asbanda, sebagai bentuk dukungan BPD dalam pembiayaan industri kreatif dan pelaksanaan financial inclusion.
: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.