Kepala BKKBN Sudibyo Alimoeso mengatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 2010 sekitar 21 persen remaja terutama di daerah perkotaan diduga melakukan seks bebas atau seks di luar pernikahan.
"Data tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan 2010 dan sekarang indikasinya justru terus mengalami kenaikan," kata Sudibyo pada pertemuan dengan insan kesehatan di Banjarmasin, Rabu.
Menurut dia, salah satu indikasi kenaikan jumlah seks bebas tersebut adalah banyaknya kelahiran di kalangan remaja terutama di daerah perkotaan.
Kelahiran di kalangan remaja tersebut, kata dia, antara lain karena pernikahan usia dini juga tidak menutup kemungkinan seks bebas tersebut.
Tingginya angka kelahiran di usia remaja, kata dia, membuat angka kematian ibu dan angka kematian bayi secara nasional masih cukup tinggi, kondisi tersebut membuat sebagian raport program kesehatan masih merah.
Indikasi lain, kata dia, saat ini banyak kasus ditemukannya bayi atau anak yang dibuang, karena kelahiran yang tidak dikehendaki.
Jumlah kelahiran yang tidak dikehendaki atau "unmetneed" tersebut masih cukup tinggi yaitu mencapai delapan persen dari 50 juta wanita usia subur.
"Jumlah tersebut sangat tinggi dan harus diturunkan minimal hingga lima persen," katanya.
Dengan demikian, kata dia, pihaknya akan terus melakukan konseling ke masyarakat, terutama ke kampus, ke pondok pesantren ke sekolah dan ke tempat-tempat lainnya yang potensial terjadinya pernikahan dini maupun seks bebas.
Selain meningkatkan konseling, kata dia, pihaknya juga akan mendorong adanya perubahan undang-undang perkawinan yang kini membolehkan wanita berusia 16 tahun untuk menikah.
Padahal, pada usia tersebut, remaja merupakan masa emas yang untuk meningkatkan daya kreativitas dan belajar serta prestasi.
Berdasarkan hasil sementara Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, ada 5 hal yang masih mendapatkan nilai merah di bidang kesehatan, yakni Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) total Fertility Rate (TFR) atau angka kelahiran total, air bersih dan Malaria.
Berdasarkan target dari MDGs tahun 2015 untuk AKI adalah 102/100.000 kelahiran hidup, tapi kini masih di angka 228/100.000 kelahiran hidup.
Sedangkan angka kematian bayi, target MDGs harus mencapai 23/1.000 kelahiran hidup, namun pada 2012 masih 34/1.000 kelahiran hidup.
Meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, sebanyak 86,4 juta masyarakat miskin di Indonesia dijamin pemerintah di bidang kesehatan./D.
(T.U004/B/H005/H005) 27-02-2013 19:12:38
Pewarta: Ulul MaskuriahEditor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.