"Beberapa hari tidak ada lagi nelayan yang berani turun ke laut menangkap ikan seperti biasa," kata Riadi, seorang warga nelayan di Kotabaru, Minggu.
Nelayan lebih memilih beristirahat di rumah sambil memperbaiki jaring yang rusak atau menambal kapal atau perahu yang bocor.
Mereka masih trauma pascakejadian gelombang tinggi disertai angin kencang beberapa waktu lalu yang menyebabkan beberapa kapal hilang dan seorang bayi tewas.
Saat ini, ujar warga, di perairan Kotabaru dan Jawa terjadi cuaca ekstrem.
Dimana cuaca tidak bisa ditebak, terkadang tenang seperti di sungai permukaan air rata tidak ada gelombang sama sekali, terangnya.
"Namun tiba-tiba terjadi gelombang tinggi dan angin kencang," ucap Riadi.
Kondisi tersebut membuat para nelayan yang menangkap ikan dengan cara tradisional tersebut semakin takut melaut.
"Mereka menunggu cuaca benar-benar tenang dan teduh tidak ada gelombang dan angin," jelasnya.
Ia menceritakan, beberapa pekan lalu di wilayah Pulau Sembilan terjadi gelombang tinggi dan angin kencang.
Angin kencang tersebut menyapu sejumlah atap rumah warga Pulau Sembilan.
"Kebetulan saat itu ada bayi yang sedang diayun oleh orangtuanya ketika terjadi hujan lebat," ujarnya.
Tiba-tiba angin kencang menyebabkan terbangnya atap rumah dimana bayi tersebut diayun.
"Menurut cerita warga, saat ditemukan, bayi tersebut sudah tewas, ada kemungkinan tertindi kayu atap atau yang lainnya," jelasnya.
Sementara di laut, beberapa kapal yang dilego jangkar hilang karena talinya putus akibat gelombang dan angin kencang.
"Satu buah kapal pedagang ikan hilang dan ditemukan di daerah Sulawesi," pungkasnya.
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.