Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Indonesia hingga kini masih termasuk negara yang minim terhadap publikasi karya ilmiah terutama dari perguruan tinggi maupun instansi terkait lainnya.

Wakil Dekan I Bidang Akademik Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Rina Mustika mengatakan, berdasarkan data Scimagojr, Journal and Country Rank 2011, Indonesia berada di rangking 65 dengan jumlah 12.871 publikasi.
 
Hal itu dikatakan Rina kepada wartawan di sela acara Workshop Scientific Writing and Research Publication for Academics: Trip and Tricks yang digelar Fakultas Perikanan dan Kelautan ULM.

Menurut dia, posisi Indonesia saat ini di bawah Kenya dengan 12.884 publikasi. Di peringkat pertama Amerika dengan 5.285.514 publikasi. Bahkan Singapura yang negerinya kecil saja ada di posisi 32 dengan 108.522 publikasi.
     
Padahal tambah Rina, sejak dikeluarkannya Permenristek Dikti Nomor 20 Tahun 2017 dan Surat Edaran  Dirjen Dikti No. 152/2012, tentang kewajiban pemberian tunjangan profesi dosen dan guru besar,  salah satu tugas dari kewajibannya adalah menulis artikel ilmiah, yang diterbitkan dalam Jurnal bereputasi nasional maupun  internasional.

"Namun kenyataan di lapangan, menunjukkan bahwa menulis artikel untuk diterbitkan di Jurnal terasa tidak mudah," bebernya.

Menurut dia,  menulis artikel ilmiah menjadi semacam "Hidden Curriculum" dimana mau tidak mau, suka tidak suka, dosen harus mampu menerbitkan artikel ilmiahnya pada Jurnal nasional dan internasional bereputasi.
   
Momok

Mendorong agar produksi dan publikasi karya ilmiah di ULM terus berkembang, Fakultas Perikanan dan kelauatan ULM menggelar Workshop Scientific Writing and Research Publication for Academics.

Melalui workshop tersebut, diharapkan menulis artikel jurnal berskala nasional dan internasional, tidak lagi menjadi momok menakutkan untuk memenuhi persyaratan Permenristek Dikti, nomor 20 Tahun 2017 dan Surat Edaran  Dirjen Dikti No. 152/2012.
     
ULM ungkap Rina, telah berupaya melalui Lembaga PPJP (Pusat Pengelolaan Jurnal dan Penerbitan) untuk  memfasilitasi dengan diterbitkannya beberapa jurnal yaitu  36 jurnal dosen dan kurang lebih 50 jurnal tugas akhir mahasiswa, diantaranya 10 jurnal dosen yang ada di PPJP telah terindeks DOAJ.
     
Selain itu, untuk mengatasi persoalan tidak hanya selesai dengan disiapkannya wadah untuk penulisan artikel ilmiah pada Jurnal-Jurnal semata.

Apalagi Hidden Curriculum  yang dirasakan oleh dosen tidak hanya terletak pada bagaimana melakukan penelitian dengan baik, tetapi juga pada bagaimana mengemas hasil penelitian itu menjadi sebuah tulisan, yang memenuhi logika dan kaidah - kaidah berpikir, serta tata tertib sebuah artikel yang dipersyaratkan pada nasional maupun internasional.
     
"Fakultas Perikanan dan Kelautan telah menfasilitasi artikel ilmiah yang berasal dari dosen, baik dari dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan sendiri maupun dosen dari luar provinsi dengan diterbitkannya Jurnal Fish Scientiae yang sudah terindeks di beberapa lembaga pengindeks.

Beberapa lembaga pengindeks antara lain, DOAJ, PKP Index, BASE, Academic Resources Index, Figshare, Google Scholar, IPI-Portal Garuda, One Search, dan dalam waktu dekat ProQuest dan EBSCO.
Fish Scientiae juga telah mendaftarkan ke Lembaga Indeks Scopus dan akan direevaluasi ulang pada tahun 2019," papar Rina.
     
Workshop tersebut menghadirkan Dr Andri Andriyana (Associate Professor dan Koordinator Erasmus Mundus Asia) dari Universitas Malaya Kuala Lumpur dan Prof Dr Abdul Hadi selaku Kepala Perpustakaan ULM dan sekaligus Kepala PPJP ULM.
     
Andri Andriyana secara simultan mulai 17, 18, dan 19 Oktober 2017 memberikan tip dan trik bagaimana cara menulis artikel ilmiah yang baik agar dapat diterima dan diterbitkan dalam Jurnal ilmiah bereputasi baik dalam Jurnal berskala nasional maupun internasional.

Pewarta: Firman

Editor : Ulul Maskuriah


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2017