Banjarmasin (Antaranews Kalsel) - Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin, H Ir Muslih menyatakan kondisi keasaman air Sungai Martapura yang sempat meninggi beberapa waktu lalu kini sudah mulai normal.


Dengan demikian pengolahan air PDAM yang tadinya juga sempat terganggu akibat keasaman air Sungai Martapura kini juga mulai normal, kata Muslih kepada wartawan di balaikota Banjarmasin, Selasa.

"Sudah berjalan seminggu ini kadar asam atau PH air sungai Martapura berangsur normal, hingga pengolahan air bersih bisa maksimal kita lakukan," ujarnya.

Menurut dia, pH air sungai Martapura yang sempat menurun sampai diposisi terendah, yakni, pH 4 hingga membuat keasaman air menjadi tinggi, sejak seminggu ini mulai naik keposisi pH 6,2 hingga pH7, artinya normal.

"Sebab kadar air baku bisa berada di posisi pH 6,2 atau 7 itu standar bisa diolah dengan baik, artinya tidak memerlukan zat kimia yang banyak," bebernya.

Dengan sudah bisa maksimalnya pengambilan air baku ini, ucap Muslih, maka produksi air bersih bisa kembali normal pula, dan penyaluran air bersih kepelanggan tidak banyak kendala lagi, termasuk kualitas air.

"Paling ada kendala teknis saja lagi hingga membuat daya distribusi kerumah pelanggan sedikit menurun, misalnya karena listrik padam atau berpaikan pipa yang bocor," bebernya.

Diutarakan dia, masa krisis air baku yang dialami perusahaan air bersih milik Pemkot ini sempat terjadi sekitar beberapa bulan, di mana sebelumnya sekitar empat bulan mengalami keasinan tinggi akibat kemarau.

"Saat kemarau di mana air laut lebih besar masuk kesungai Martapura, saat musim hujan lahan gambut yang dulu terbakar tergerus air masuk kesungai hingga membuat keasanan tinggi," paparnya.

Menurut dia, perkiraan krisis air bersih yang dialami Banjarmasin ini akan terjadi setiap kalinya di saat cuaca ekstrim, utamanya saat terjadi kemarau panjang.

"Makanya upaya kita untuk membangun persediaan air baku ini terus dilakukan, termasuk rencana membangun embung atau lumbung air baku di Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar," ujarnya.

Muslih mengutarakan, untuk memenuhi kebutuhan air bersih kesebanyak 150 ribu lebih itu dioprasikan tiga tempat pengolahan, yakni, IPA 1 yang berada di Jalan A Yani mampu memproduksi 500 liter/detik, IPA 2 di Jalan Pramuka sebesar 1.750 liter/detik dan MTP Sungai Lulut sebesar 50 liter/detik.

Pewarta: Sukarli

Editor : Hasan Zainuddin


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2016