Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan dan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) mempercepat pelepasliaran bekantan dan satwa liar lain karena penerapan kebijakan untuk menanggulangi wabah COVID-19 menimbulkan beberapa kendala dalam perawatan bekantan di pusat rehabilitasi.

Empat bekantan yang menurut rencana semula dilepasliarkan bulan depan, pada Selasa (14/4) dilepaskan di kawasan konservasi Suaka Margasatwa Pulau Kaget, Kabupaten Barito Kuala, bersama empat burung yang terdiri atas burung pecuk ular, bangau tong tong, dan elang.

Kepala BKSDA Kalimantan Selatan Mahrus Aryadi di Banjarmasin, Rabu, mengatakan pelepasliaran satwa-satwa liar yang sudah menjalani rehabilitasi tersebut dipercepat karena stok pakan dan alat pelindung diri untuk petugas pusat rehabilitasi menipis sementara penyedia jasa pakan banyak yang tidak beroperasi akibat wabah.

"Banyak sektor kehidupan yang terdampak dari adanya pandemi virus dan kebijakan pemerintah ini, termasuk pusat rehabilitasi atau pusat penyelamatan satwa," katanya.

Ketua SBI Amalia Rezeki mengatakan bahwa empat bekantan berusia delapan sampai 15 tahun yang dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Pulau Kaget sudah menjalani rehabilitasi selama hampir lima tahun.

Keempat bekantan itu dievakuasi dari empat daerah berbeda. Bekantan betina Mary dievakuasi dari Basirih, Banjarmasin; bekantan betina Julia dievakuasi dari Desa Sungai Kali, Barito Kuala; bekantan betina Dara dievakuasi dari kawasan Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru; dan bekantan jantan Wandi dievakuasi dari kawasan permukiman Kabupaten Banjar.

Bekantan-bekantan itu dievakuasi karena masuk ke permukiman warga dan sebagian terluka karena tertabrak kendaraan atau hanyut di sungai dalam perjalanan meninggalkan habitat yang rusak.

Amalia bersyukur bekantan-bekantan yang dievakuasi dalam keadaan terluka dan trauma itu akhirnya pulih dan bisa kembali ke habitat mereka di alam liar.

Dia berharap selanjutnya konflik antara satwa liar dan manusia akibat alih fungsi lahan, kebakaran hutan, dan perburuan liar makin berkurang.
 

Pewarta: Latif Thohir

Editor : Ulul Maskuriah


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2020