Berbagai cara dilakukan guna mengatasi terbakarnya lahan di sekitar Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin di Banjarbaru, Kalimantan Selatan yang kini masih terjadi, salah satunya air di Waduk Riam Kanan akan dialirkan untuk membasahi kawasan itu.

"Sekarang kanalnya masih kami buat hingga mendekati bandara," kata Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan Hanif Faisol Nurofiq di Banjarbaru, Rabu.
Baca juga: 900 hektare lahan gambut yang terbakar bakal ditenggelamkan

Dia menjelaskan, pintu air di aliran irigasi Tegal Arum hingga ke bandara jaraknya mencapai 1,5 kilometer. Sedangkan dari pintu air tersebut ke Waduk Riam Kanan di Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar sekitar 1,75 kilometer.

"Saya optimis pembuatan kanal ini dapat rampung secepatnya dan pembasahan di kawasan Guntung Damar atau Jalan Tegal Arum bisa dilakukan untuk pemadaman lahan yang terbakar," kata Hanif kepada ANTARA ketika berada di lokasi pembuatan kanal.

Dijelaskan, mengalihkan air dari Waduk Riam Kanan langsung ke tempat gambut yang terbakar dapat mematikan titik api secara permanen dengan biaya tidak mahal jika dibanding metode yang lain.

Diketahui lahan gambut jika sudah terbakar maka titik panasnya akan menjalar ke bawah tanah dan bisa memunculkan api di titik lainnya.

Untuk itu, kata Hanif, penyiraman di bagian permukaan saja tidak akan bisa mematikan api secara permanen. Jika tidak dilakukan dengan cara pembasahan dari bawah tanah pula.

Sedangkan metode suntik gambut juga tidak akan efektif mengingat areal lahan yang terbakar sudah cukup luas. Diungkapkan, dalam penggunaan alat pemadaman suntik gambut yang sudah dilakukan di belakang SMPN 15 Banjarbaru, 6.000 liter air hanya mampu membasahi 5x10 meter lahan. Apalagi kemampuan mesin pompa dan sumber air juga terbatas yang jadi kendala tersendiri.

"Berbeda dengan kebakaran di pegunungan misalnya, cukup water boombing dapat dipadamkan selesai tidak menyala lagi apabila tidak ada penyulut api yang baru," jelasnya.
Alat berat terus bekerja dalam pembuatan kanal untuk mengalirkan air dari Waduk Riam Kanan ke area lahan sekitar bandara. (antara/foto/firman)


Diakui Hanif, kasus karhutla di Kalsel dominan terjadi untuk area lahan. Sedangkan untuk kawasan hutan hanya ada beberapa dan dilakukan oleh perorangan seperti pembukaan lahan untuk berladang.

Sehingga untuk karhutla saat ini, pihaknya hanya sebagai tim pendukung dalam satgas. Sedangkan komandonya di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Namun begitu, dia memastikan jajarannya juga sudah mengerahkan kekuatan personel yang maksimal dalam upaya penanggulangan bencana karhutla tahun ini, termasuk untuk pencegahan dengan sosialisasi ke masyarakat petani dan sebagainya.

Sementara Kalak BPBD Kalimantan Selatan Wahyuddin mengungkapkan, hingga kini luasan lahan yang terbakar diperkirakan 4.200 hektar.

"Paling banyak di Kabupaten Tanah Laut dan juga kawasan sekitar bandara di Banjarbaru. Tahun lalu saja, kawasan Guntung Damar 400 hektar terbakar," bebernya.

BPBD Kalsel mengerahkan 170 petugasnya yang dibantu pasukan pemukul Damkar setiap harinya dalam penanggulangan karhulta.

"Helikopter saat ini ada empat beroperasi. Satu unitnya dalam sehari melakukan water boombing rata-rata 30 kali," pungkasnya.  

Pewarta: Firman

Editor : Hasan Zainuddin


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2019