"Kemampuan nelayan kita baru kurang dari 10 persen permintaan rumput laut dunia," kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kotabaru, Latif di Kotabaru, Sabtu.
Menurut dia, terbatasnya produksi rumput laut hingga saat ini terkendala oleh sumber daya manusia dan permodalan.
Harga jual dan pasar kini tidak menjadi persoalan nelayan namun nelayan yang memiliki ilmu dan keahlian budi daya rumput laut masih cukup minim.
"Ditambah dengan belum adanya lembaga perbankan yang mau terlibat dalam pembiayaan menjadikan Kotabaru tidak dapat memenuhi permintaan pasar rumput laut," ujar Latif.
Periode 2008 kebutuhan rumput laut Indonesia rata-rata berkisar 1.000 ton perbulan.
Kebutuhan tersebut hingga kini masih belum terpenuhi dan Indonesia diperkirakan masih mendatangkan rumput laut dari Negara Chile serta negara-negara tetangga lainnya.
Kendati belum mampu memenuhi kebutuhan dunia, Kotabaru diharapkan mampu memenuhi kebutuhan rumput laut khusus untuk Provinsi Kalimantan Selatan sekitar 480 ton pertahun.
Rumput laut digunakan untuk bahan baku kosmetik, sabun, makanan serat, obat-obatan serta bahan campuran pembuatan baja.
Saat ini, Kotabaru masih memiliki sekitar 2.500 hektare pesisir yang potensi menjadi lokasi pengembangan budi daya rumput laut.
Selain dapat dikembangkan di daerah pantai, rumput laut juga bisa dikembangkan di daerah pertambakan Gracilia SPT dan daerah rawa air asin tersebut cukup luas tersedia didaerah itu.
Ketua Kelompok Nelayan "Sipotuo" Pulau Laut Barat, H. Sulaiman beberapa waktu lalu mengungkapkan, pihaknya ingin sekali mengembangkan budi daya rumput laut namun terkendala modal usaha untuk membeli bibit, tali dan tiang.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.