Harapan itu disampaikan ketua Pansus II DPRD Kalsel, H Hasmy Fadillah Akbar di Banjarmasin, Kamis, sekembali dari studi banding ke Sumsel.
Pansus II yang membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) pembangunan perkebunan berkelanjutan di Kalsel itu, sengaja memilih obyek studi banding ke "Bumi Sriwijaya" Sumsel.
Karena, lanjut mantan staf pimpinan Kanwil Departemen Pertanian Kalsel itu, pembangunan perkebunan di Bumi Sriwijaya tergolong maju, dan patut menjadi contoh.
Selain itu, di Sumsel terdapat Balai Besar Perkebunan yang juga bisa menjadi rujukan bagi Kalsel dalam pembangunan perkebunan berkelanjutan, lanjut politisi senior Partai Golkar tersebut.
Sebagai contoh sistem perkebunan besar swasta di Sumsel dengan kuliner empek-empek Palembangan itu, memberikan plasma sebanyak 20 persen kepada masyarakat setempat.
"Pemberian plasma sebanyak 20 persen kepada masyarakat setempat, sebagai salah satu upaya pembangunan perkebunan berkelanjutan. Karena masyarakat setempat merasa turut bertanggung jawab atas kesinambungan usaha perkebunan tersebut," ujarnya.
"Sementara usaha perkebunan besar di daerah kita belum sepenuhnya menerapkan 20 persen plasma untuk dikelola atau menjadi hak masyarakat setempat," lanjut alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) di Banjarbaru itu.
Contoh lain, perkebunan rakyat di Sumsel itu hampir seluruhnya menggunakan bibit unggul, seperti tamanan karet, sehingga tingkat produktivitasnya juga cukup tinggi.
"Sedangkan perkebunan karat rakyat di daerah kita belum mencapai 50 persen menggunakan bibit unggul," demikian Hasmy Fadillah Akbar.
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.