Seorang nelayan di Pulau Sembilan Hamka, Sabtu, mengatakan, hanya sebagian kecil nelayan yang masih tetap turun kelaut untuk menangkap ikan, meski hasilnya tidak menentu.
"Tetapi sebagian besarnya memilih istirahat, karena hasil tangkap masih belum sebanding dengan biaya operasional," ujarnya.
Masa sulit seperti terjadi antara Oktober-Maret, di mana waktu tersebut terjadi gelombang tinggi atau yang biasa disebut musim barat.
Bahkan karena sulitnya, ujar Hamka, sebagian besar penduduk Desa di Labuan Barat eksodus ke luar daerah.
Mereka ada yang pergi ke Batulicin, Pagatan, dan Sungai Danau Kabupaten Tanah Bumbu, dan sebagian ke Kabupaten Kotabaru.
Bahkan ada yang pergi ke Banjarmasin, dan Sulawesi Selatan.
Mereka ingin mempertahankan hidup, karena di daerahnya terjadi musim paceklik.
Nelayan yang eksodus tersebut, lanjut dia, baru akan kembali ke kampung halamannya sekitar April-September.
"Karena waktu itu terjadi gelombang teduh atau yang biasa disebut musim timur," ujarnya.
Bagi nelayan yang memiliki tabungan cukup, atau memiliki ketrampilan lain selain menangkap ikan, mereka tetap bertahan di daerahnya.
Kebiasaan nelayan tersebut, menurut Hamka, sudah terjadi sejak nenek moyang masyarakat di Pulau Sembilan.C
: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.