Realisasi nilai ekspor Kalimantan Selatan hingga Juni 2012 masih tumbuh 26 persen yaitu 5,7 miliar dolar AS lebih dibanding sebelumnya 4,5 miliar dolar AS atau jauh diatas target nasional yang dipatok hanya 12 persen pertahun.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Gusti Yasni Iqbal di Banjarmasin, Senin mengatakan, kenaikan nilai ekspor yang mencapai 26 persen tersebut cukup menggembirakan disaat kondisi perekonomian Eropa sedang lesu.

"Kita akui ekspor sektor unggulan Kalsel, baik batu bara, karet dan sawit tumbuh melambat, karena harganya yang akhir-akhir ini terus turun," ucapnya.

Menurut dia, volume ekspor batu bara pada Januari hingga Juni 2012 mencapai 68 ribu ton naik 42,74 persen dibanding tahun sebelumnya dengan periode sama sebesar 48,2 ribu ton lebih.

Sedangkan nilai ekspornya pada Januari hingga Juni 2012 mencapai 5 miliar dolar AS naik 32,11 dibanding tahun sebelumnya sebesar 3,8 miliar dolar AS lebih.

Sedangkan produk tambang secara keseluruhan baik itu batu bara, kliniker, batu besi dan pasir sirkon, volumenya mencapai 72,7 ribu ton naik 40,24 persen dibanding tahun sebelumnya dengan periode sama.

Begitu juga dengan nilainya masih naik 31,95 persen dari sebelumnya 3,9 miliar dolar AS lebih menjadi 5,1 miliar dolar AS.

"Mungkin dibanding provinsi lainnya kondisi ekspor kita masih relatif lebih baik, karena kita berbasis sumber daya alam, selain itu sebelumnya kita juga sudah mulai merintis pasar ekspor di luar negara Eropa," tuturnya.

Namun demikian, kata dia, dengan terus menurunnya harga batu bara akibat krisis yang melanda berbagai negara, harus dicarikan strategi pemasaran ekspor baru, untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Kondisi perekonomian Eropa yang berdampak pada bisnis batu bara tersebut, membuat pengusaha batu bara akhirnya bersatu membangun wadah yang disebut Asosiasi Pemasok Energi dan Batu Bara Indonesia (ASPEBINDO) sejak 2011.

Sebelumnya, Ketua ASPEBINDO Ferry J Yulianto di Banjarmasin, Jumat mengatakan, saat ini perusahaan batu bara nasional sedang mengalami kelesuan akibat krisis ekonomi Eropa yang mengakibatkan penurunan harga batu bara ekspor.

Salah satu upaya yang dilakukan, kata dia, dengan membuka kantor cabang ASPEBINDO di beberapa negara importir seperti Hong Kong dan Vietnam, dengan tujuan selain mencari pasar baru juga untuk mengantisipasi kemungkinan gagal transaksi.

Menurut dia, selama ini perdagangan batu bara nasional banyak dikuasai oleh "traider" atau "broker" dari negara-negara asing, yang tidak menutup kemungkinan menjadi salah satu penyebab terjadinya kerugian bagi pengusaha batu bara tersebut.

Meminimalisasi hal itu, lanjut dia, perlu ada organisasi Indonesia yang ada di negara tersebut untuk mengawasi dan mengantisipasi berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan.

"Saat ini perusahaan pemasok batu bara nasional masih jauh lebih baik dibanding dengan perusahaan batu bara yang mengekspor ke berbagai negara, saatnya kita melakukan pembenahan masalah ini," katanya.C


: Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026