Wakil Bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, H Difriadi Darjat menyatakan, secara keseluruhan jumlah pengusaha di wilayah Indonesia masih relatif kecil dibandingkan negara lain.

Hal ini disebabkan akibat salahnya cara berpikir sebagian besar masyarakat yang selama ini berkeinginan hidup puas menjadi pegawai atau karyawan perusahaan dengan gaji yang tetap dari pada mempertaruhkan hidup menjadi pengusaha sukses,katanya di Batulicin, Kamis.

"Padahal menjadi pegawai bukanlah satu-satunya cara untuk hidup lebih baik. Justru menjadi pengusaha sukses sesorang akan lebih berhasil karena mampu menghidupi dan memperkerjakan orang banyak," katanya lagi.

Iapun berharap para calon tenaga kerja khusnya di Tanah Bumbu kedepanya punya semangat bisnis untuk menjadi pengusaha sebagaimana yang diajarkan salah satu orang terkaya dunia yaitu Robert T-Kyosaki dalam teori kwadrannya.

Supaya kesejahteraan masyarakat lebih meningkat karena selain memiliki kebebasan Finansial atau penghasilan yang tidak terbatas mereka juga memiliki banyak waktu untuk dirinya sendiri, keluarga, dan orang lain.

"Ini bukan berarti bahwa kita tidak perlu pegawai dalam hidup bermasyarakat. Pegawai yang tangguh masih tetap kita perlukan, namun disisi lain semangat menjadi pengusaha ditengah masyarakat juga harus dibangun," jelas wakil bupati.

Pengusaha yang berhasil, tambahnya, ibarat pohon yang sudah tinggi buahnya juga harus lebat dan bisa memberi manfaat bagi orang di sekitarnya.

Jangan sampai pohon yang tinggi buahnya justru jarang-jarang sehingga tidak mampu memberikan kontribusi apapun bagi warga disekelilingnya.

Contoh hal yang kecil adalah sistem kerja outsourcing yang selama ini diterapkan oleh sejumlah perusahaan besar. Sistem kerja seperti ini dianggap kurang bisa menjamin kesejahteraan para karyawan karena sewaktu mereka bisa diberhentikan secara sepihak.

Semestinya untuk perusahaan besar ibarat pohon yang sudah tinggi dengan hasil buah yang banyak alias keuntungan yang besar sistem outsourcing itu diharapkan tidak dipakai lagi.

Kalaupun tetap dipakai setiap memberhentikan karyawan mereka harus dijaminan uang pesangon yang layak untuk modal usaha yang baru guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Tapi yang ada sekarang outsourcing tidak demikian. ini hanyalah akal-akalan dari pemilih perusahaan, padahal disisi lain mereka sudah mendapatkan keutungan yang besar dari karyawan yang berhentikan," katanya.


Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026