Nelayan di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, dianjurkan untuk menggunakan drum bekas pengganti tiang bagan yang berupa beton atau kayu bakau karena lebih ekonomis dan efektif.
"Seperti yang dilakukan oleh nelayan bagan di Banyuwangi, Jawa Timur," kata Ketua Komisi II DPRD Kotabaru M. Faruk Syahdan, usai kunjungan kerja ke banyuwangi, Rabu.
Nelayan di Banyuwangi dalam membangun bagan, tidak lagi menggunakan beton, bahkan kayu, akan tetapi menggunakan pelampung atau drum bekas.
Menurut para nelayan di Banyuwangi, ujar Faruk, biaya pembelian drum bekas lebih murah jika dibandingkan dengan biaya pembelian kayu, apalagi beton.
Apa yang dilakukan nelayan Banyuwangi sangat cocok dengan kondisi di Kotabaru, khususnya, perairan Sarang Tiung dan sekitarnya.
Selain hemat biaya, nelayan juga akan mendapatkan kemudahan dalam menangkap ikan.
"Karena dengan bagan pelampung tersebut bisa dipindah-pindah untuk mencari dimana ikan lebih banyak," paparnya.
Berbeda dengan bagan yang menggunakan tiang beton ataupun kayu, akan monoton.
Kedepannya, lanjut Faruk, wakil rakyat berharap semua bagan yang ada di Kabupaten Kotabaru mengunakan drum bekas.
Drum bekas mudah dicari, dan harganya relatif murah dibandingkan dengan kayu ataupun tiang beton.
Terlebih kayu bakau tersebut berada di kawasan hutan cagar alam yang harus dijaga kelestariannya.
Faruk mengaku, Komisi yang dipimpinya segera melakukan rapat intern terkait penggunaan drum bekas untuk bagan.
Sementara itu, jumlah bagan di Kabupaten Kotabaru beberapa tahun ini terus berkurang, dari sekitar ribuan tersisa ratusan bagan, seiring dengan tingginya biaya pembangunan bagan yang mencapai kisaran Rp30 juta per buah.
Banyak bagan rusak rusak akibat diterjang gelombang dan angin kencang, sehingga nelayan tidak mampu memperbaiki baganya kembali karena minimnya biaya rehap/D.
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.