Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin mengatakan, laju degradasi atau kerusakan lingkungan di daerah itu setiap tahun terus bertambah sehingga perlu upaya terus-menerus untuk menahan penyebab terjadinya lahan kritis tersebut.


Menurut Gubernur pada pencanangan penanaman perdana kawasan RHL, Suaka Margasatwa, Kuala Lupak, Kabupaten Barito Kuala serta penghijauan kawasan perkantoran Pemprov Kalsel di Banjarbaru, Selasa, degradasi lingkungan saat ini cukup tinggi dan tidak seimbang dengan upaya rehabilitasi yang dilakukan berbagai pihak.

Pada 2003, kata dia, lahan kritis di Kalsel seluas 55.983 hektare dimana 364.840 hektare diantaranya berada di kawasan hutan dan 131 ribu hektare di luar kawasan.

Berdasarkan pemutakhiran data 2009, kini lahan kritis telah mencapai 761.042 hektare tersebar di 13 kabupaten/kota yang disebabkan gencarnya penebangan dan alih fungsi kawasan hutan, sehingga berpengaruh pada terus bertambahnya lahan kritis.

Setiap tahun lahan kritis bertambah 66.500 hektare sementara, kemampuan rehabilitasi kawasan hutan oleh pemerintah dan masyarakat setiap tahunnya, hanya 16.500 hektare, sehingga perlu upaya luar biasa untuk terus melakukan rehabilitasi.

Dengan demikian, kata dia, perlu dilakukan upaya signifikan dan terus menerus untuk mendorong seluruh pihak melaksanakan rehabilitasi lahan kritis di seluruh wilayah Kalsel.

"Salah satu upaya yang akan kita lakukan selain dengan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan adalah dengan mendorong perusahaan untuk melaksanakan ketentuan penanaman sesuai dengan luas lahan yang dibuka, selain merehabilitasi bekas tambang yang mereka buka," katanya.

Dengan pelaksanaan ketentuan tersebut, kata dia, diharapkan laju degradasi lingkungan bisa ditahan, minimal tidak bertambah.

Menurut Gubernur, Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan, sejak 2011 telah menanam sebanyak 17,5 juta pohon terkait program Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) serta program penanaman satu miliar pohon.

Upacara penanaman perdana kawasan RHL suaka Margasatwa Kuala Lupak serta penghijauan kawasan perkantoran Pemprov Kalsel di Banjarbaru dilaksanakan oleh BP-DAS Kalsel, Korem 101 ANTASARI, Pemprov Kalsel dan Forum Jurnalis Pena Hijau Indonesia di halaman kantor Pemprov Banjarbaru.

Sekretaris Dirjen BP Daerah Aliran Sungai Kementerian Kehutanan Murdiono, mengatakan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di Kalsel berjalan dengan baik.

Kegiatan penanaman pohon ini, akan dilanjutkan dengan penanaman lima juta pohon, saat musim hujan 2012 ini.

Menurut Murdiono, rehabilitasi hutan dan lahan selain memfokuskan pada areal lahan kritis juga kawasan hutan konservasi dan hutan mangrove di sejumlah wilayah.

Di Kalsel, Kementerian Kehutanan telah mencanangkan penanaman sedikitnya 200.000 pohon mangrove di kawasan Suaka Margasatwa, Kuala Lupak, Kabupaten Barito Kuala dan Suaka Margasatwa Pleihari, Kabupaten Tanah Laut, seluas 750 hektare.

"Secara nasional pemerintah menargetkan penanaman seluas 500.000 hektare dan 100.000 hektare diantaranya di kawasan hutan lindung," katanya.

Namun, kata dia, program rehabilitasi hutan dan lahan ini banyak menemui kendala di lapangan, sehingga sebagian mengalami kegagalan.

"Pemerintah masih mengevaluasi tingkat keberhasilan tanam, tetapi kemampuan tanam sangat terbatas ditambah faktor perubahan iklim, kekeringan dan kebakaran hutan ikut mempengaruhi program ini," katanya.

Komandan Korem 101/Antasari Kolonel Inf M Herindra mengatakan siap mengawal dan merawat upaya penanaman dan rehabilitasi yang telah dilaksanakan.

"Termasuk yang di lingkungan Pemprov Kalsel, Kodim Martapura yang akan melakukan perawatan secara intensif," katanya.

Selain itu, Kodim Marabahan Kabupaten Barito Kuala juga akan melakukan penanaman sekitar 750 ribu mangrove di kawasan Kuala Lupak.

  Sedangkan Pena Hijau akan melakukan penanaman seribu trembesi di kawasan perkantoran Pemprov Kalsel./D.
(T.U004/B/S023/S023) 02-10-2012 19:22:25


: Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026