"Penurunan tersebut juga karena imbas dari resesi ekonomi di kawasan benua Eropa," lanjutnya dalam acara sahur bersama insan pers di Banjarmasin, dinihari Ahad.
Namun dalam acara sahur bersama yang dihadiri Ketua PWI Kalsel Fathurrahman itu, orang nomor satu di jajaran pemerintah provinsi tersebut tak mengungkap penurunan nilai ekspor dari provinsinya.
Ia berharap, nilai ekspor dari Kalsel bisa segera membaik kembali dan mengalami peningkatan, sebagaimana masa-masa sebelumnya, seiring pulihnya keadaan perekonomian dunia, terutama benua Eropa yang dilanda krisis ekonomi.
"Oleh sebab itu, mari kita berdoa bersama, semoga kondisi perekonomian dunia, khusus Eropa segera membaik kembali, sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional dan Kalsel khususnya," demikian Rudy Ariffin.
Sementara data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel menunjukkan, nilai ekspor dari provinsi tersebut dalam tiga bulan terakhir, sejak April 2012 terus mengalami penurunan.
Seperti nilai ekspor Kalsel Juni 2012 yang mencapai US$831,55 juta turun 5,76 persen dibanding Mei 2012 yang mencapai US$882,40 juta, dan Mei Mei 2012 US$865,30 juta atau turun 11,78 persen dibandingkan April 2012.
Nali ekspor Kalsel Juli 2012 tersebut juga turun 7,61 persen jika dibandingkan dengan nilai Juli 2011 yang ketika itu mencapai US$900,07 juta.
Secara kumulatif nilai ekspor dari provinsi yang terdiri 13 kabupaten/kota tersebut (Januari - Juni 2012) mencapai US$5,35 miliar atau naik 26,54 persen dibanding periode yang sama tahun 2011 yang hanya mencapai US$4,23 miliar.
Komoditi utama penyumbang ekspor terbesar dari Kalsel Juni 2012 berdasakan kode Harmonized System (HS) 2 dijit adalah kelompok bahan bakar mineral (HS 27) dengan nilai US$741,70 juta.
Selain itu, kelompok lemak & minyak hewan/nabati (HS 15) dengan nilai US$57,90 juta dan kelompok kayu, barang dari kayu (HS 44) dengan nilai US$15,99 juta.
Negara utama tujuan ekspor dari "Bumi Perjuangan Pangeran Antasari" Kalsel Juni 2012 ke China dengan nilai US$223,20 juta, India dengan nilai US$152,63 juta dan Jepang dengan nilai US$147,44 juta. C
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.