Pada Mei hingga Juni 2012 harga komoditas gula di Kalimantan Selatan meroket, ditingkat eceran menembus Rp15.000 perkilogram menyusul semakin menipisnya stok gula di wilayah tersut.
Sejak beberapa tahun terakhir, masalah gula menjadi persoalan pahit yang selalu dirasakan masyarakat Kalimantan Selatan, karena harganya yang terus fluktuasi akibat tidak adanya jaminan ketersediaan stok gula ditingkat distributor.
Stok dan harga gula yang cukup fluktuatif tersebut, seakan membuat gula menjadi salah satu komoditas pengendali ekonomi Kalimantan Selatan, karena "kristal manis" tersebut menjadi salah satu pemicu terjadinya inflasi di daerah kaya sumber daya alam ini.
Kebutuhan gula di daerah yang berpenduduk 3,5 juta jiwa ini mencapai 10 ribu ton per bulan dengan konsumsi per orang jauh diatas rata-rata nasional.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalimantan Selatan Farida Wariansi mengatakan, konsumsi gula warga Kalimantan Selatan jauh diatas rata-rata nasional yaitu 1,35 kilogram per bulan per orang sedangkan nasional hanya satu kilogram per bulan per orang.
Dari total kebutuhan gula Kalsel tersebut maisng-masing dimanfaatkan yaitu lima ribu ton untuk konsumsi rumah tangga dan sisanya untuk industri.
"Warga Kalsel penyuka manis, sehingga sedikit ada gangguan distribusi gula sudah langsung bergejolak," katanya.
Tingginya ketergantungan warga Kalsel terhadap gula, kata dia, membuat gula menjadi komodite kedua sebagai penyebab inflasi di Kalsel, bila sampai terjadi kelangkaan maupun gangguan distribusi.
Celakanya, Kalsel bukanlah daerah penghasil gula, kalaupun pernah ada, kini kebun tebu dan pabrik gula telah disulap menjadi perkebunan sawit yang jauh lebih menguntungkan bagi perusahaan.
Dengan demikian, kini pasokan gula sangat tergantung dengan daerah lain, baik itu Jawa Timur, Makasar dan daerah-daerah penghasil gula lainnya.
Ketergantungan warga Kalsel terhadap gula dari daerah lain tersebut, membuat pasar gula di Kalsel mudah terombang-ambing oleh "permainan" harga para pemasok dari luar daerah.
Kondisi tersebut sangat merugikan masyarakat Banjarmasin, karena warga Banjarmasin merupakan masyarakat yang sangat tergantung dengan gula. "Orang Banjarmasin itu bisa diibaratkan pemakan gula sehingga badannya akan lemah bila tidak ada gula," kata Mantan Sekda Kalsel Mukhlis Gafuri yang baru saja memasuki masa pensiun.
Kebiasaan masyarakat Kalsel yang penyuka manis tersebut, menjadi salah satu pemicu kenapa pasar gula di Kalsel sangat sensitif terhadap kelangkaan dan kenaikan harga gula.
Tanpa Industri Besar
Kendati kebutuhan gula di Kalsel cukup tinggi yaitu mencapai 10 ribu ton dengan rincian 5 ribu ton untuk konsumsi dan 5 ribu ton untuk industri, namun di Kalsel hingga saat ini tidak memiliki industri atau perusahaan makanan sekala besar.
Ketua Asosiasi Gula Bersatu Aftahudin mengatakan, tidak adanya industri besar tersebut, membuat kebutuhan gula Kalsel seakan hanya dipandang sebelah mata oleh perusahaan gula, karena perusahaan tersebut akan mengutamakan industri besar yang sudah melakukan kontrak kerjasama.
Karena di Kalsel tidak ada industri yang melakukan kontrak kerjasama dengan perusahaan gula rafinasi seperti "Makasar Tene" di Sulawesi, sehingga tidak jarang kebutuhan gula Kalsel tidak menjadi prioritas.
"Memang cukup banyak usaha mikro kecil dan menengah di Kalsel, bisa mencapai ribuan, namun kebutuhan mereka tidak banyak, sehingga tidak mencukupi untuk melakukan kontrak," katanya.
Namun demikian, bila digabungkan, kebutuhan industri kecil tersebut cukup besar, sehingga bila pasokan gula berkurang, sangat berpengaruh terhadap ekonomi di daerah ini.
"Kalaupun saat ini kita masih mendapatkan pasokan gula rafinasi, perusahaan gula seperti Masakar Tene, hanya sekadar membantu saja, karena perusahaan gula rafinasi memasok tanpa adanya kontrak bisa mendapatkan teguran dari Kementerian Perdagangan," katanya.
Dengan demikian, tambah Aftahudin, mau tidak mau, kebutuhan gula Kalsel sebagian besar harus dicukupi oleh gula petani seperti dari Jawa Timur.
Pada saat panen gula, tambah Aftahudin, berapapun kebutuhan gula Kalsel bisa dipenuhi dari daerah penghasil gula, tetapi pada saat sedang musim paceklik gula, maka perusahaan gula seperti di Jawa Timur dana lainnya, akan mengutamakan daerah penghasil gula.
"Kondisi tersebut membuat kita sering menjadi "sasaran empuk" para pemasok dari daerah penghasil gula, untuk mempermainkan harga, karena sesuai hukum pasar permintaan besar persediaan kurang, hargapun akan naik," kata Aftahudin.
Tidak adanya kepastian jaminan ketersediaan stok gula tersebut, membuat harga gula di Kalsel terkadang jauh diatas harga gula di daerah lain.
Hal tersebut seperti terjadi pada Mei 2012, harga gula di pasar melambung hingga harga Rp15 ribu bahkan sebagian Rp16 ribu per kilogram ditingkat eceran.
Kala itu, berdasar data Asosiasi Gula Bersatu Kalsel, persediaan gula hanya sekitar 4.000 ton, padahal kebutuhan gula Kalsel sekitar 10.000 ton per bulan.
Krisis gula pasir di Kalsel mulai dirasakan masyarakat sejak Januari 2012, dimana harga gula yang semula hanya Rp9.000 merangkak naik menjadi Rp10.000 per kilogram, Rp11.000 per kilogram bahkan sempat Rp15 ribu per kilogram.
Sejumlah pedagang gula di pasar tradisional Banjarmasin mengeluhkan kenaikan harga itu dan meminta pemerintah segera mengambil langkah agar krisis itu segera diatasi.
Salah seorang pedagang di Pasar Teluk Dalam Banjarmasin Rusdi mengatakan, kenaikan harga gula pasir itu justru meresahkan pedagang kecil seperti dirinya karena keuntungan yang diambil tidak terlalu besar.
"Biasanya modalnya Rp10.000 dan kita jual Rp10.500 per kilogram dan paling mahal Rp11.000," kata dia.
Sukimah, salah seorang ibu rumah tangga yang ditemui di Pasar Teluk Dalam berharap pemerintah dapat segera menurunkan harga gula sesuai daya beli masyarakat menengah ke bawah yakni Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram.
Puasa Aman
Menurut Aftahudin, saat ini pasokan gula di Kalsel dijamin aman sampai setelah lebaran, hampir tiap hari atau tiap saat tambahan pasokan gula bisa didatangkan dari Jawa Timur, karena di daerah tersebut sedang musim giling atau musim panen.
Harga gula yang awalnya tembus harga hingga Rp15 ribu, kini turun menjadi sekitar Rp13 ribu per kilogram, diharapakan harga tersebut akan terus turun seiring dengan bakal dibukanya pasar murah pada Ramadhan 2012.
"Saat ini stok gula kita 6 ribu ton, dan sewaktu-waktu bisa ditambah sesuai dengan permintaan atau kebutuhan kita," katanya.
Kendati saat ini pasokan cukup aman, namun Disperindag berharap masyarakat mengurangi ketergantungan gula dengan daerah lain.
Menghindari ketergantungan tersebut, antara lain masyarakat Kalsel bisa mengurangi konsumsi gula, selain untuk menjaga stabilitas ekonomi juga demi kesehatan masyarakat.
Sejak Mei, kata Farida, harga pokok produksi gula nasional naik dari Rp6.600 menjadi Rp8.100 per kilogram, dengan demikian harga gula di pasaran kini naik menjadi Rp13.000 per kilogram.
"Hari ini harga gula sudah Rp13 ribu, karena distributor menjual dengan harga cukup tinggi," katanya.
Menurut Farida, harga Rp8.100 tersebut merupakan harga HPP, sedangkan harga lelangnya menjadi Rp10.550 per kilogram ditambah ongkos kirim, sehingga harga sampai di Banjarmasin bisa mencapai Rp11 ribu lebih.
Dengan demikian, kata dia, bila kini harga gula di pasaran Rp13.000 per kilogram menjadi wajar, karena kenaikan terjadi mengikuti keputusan pemerintah pusat.
Apalagi, kata dia, saat ini pemerintah mengurangi import bahan baku gula rafinasi, sehingga membuat harga gula rafinasi juga ikut mahal di pasaran.
"Makanya salah satu langkah bijak yang harus dilakukan masyarkat untuk mengurangi kebutuhan gula, dan untuk menjaga kesehatan, adalah dengan mengurangi konsumsi gula," katanya.
Tentang stok gula, kata Farida, hingga kini masih relatif aman, dari pendataan di lapangan dan di beberapa distributor, stok gula masih sekitar 6 ribu ton dan sebagian di dalam perjalanan.
Dengan demikian, diharapkan, hingga puasa mendatang, stok gula Kalsel masih cukup aman dan tidak terjadi kenaikan signifikan.
 "Kita akan selalu upayakan untuk mendapatkan stok gula sesuai dengan kebutuhan masyarakat Kalsel, sehingga tidak terjadi gejolak di masyarakat," katanyaOleh : Ulul Maskuriah/D
Pewarta: Ulul Maskuriah: Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.