Kalau saya dari nol bukan warisan Dekan dulu. Insya Allah di akhir masa jabatan saya targetkan 10 Prodi Akreditasi A. Jadi pengganti saya tahun depan harus dapat 10 juga, sehingga jadi 20 Prodi Terakreditasi A di FKIP ULM,Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Sosoknya yang ramah dengan sesekali melempar canda khas dialek Sunda menjadi karakter Prof Dr H Wahyu MS dalam setiap berbicara.
Namun jangan salah, di balik gayanya yang santai itu justru membuat atmosfer akademik di fakultas yang dipimpinnya sekarang bisa maju pesat.
Pola pendekatan dengan prinsip kerja keras, kerja cerdas, kerja mawas, kerja tuntas dan kerja ikhlas yang digaungkannya ternyata telah berhasil menggerakkan seluruh jajaran di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk semangat maju bersama.
Salah satu bukti keberhasilan Wahyu memajukan fakultas pencetak tenaga pendidik dan kependidikan itu, yakni diraihkan Akreditasi A pada sembilan Program Studi (Prodi) Sarjana (S1).
Hebatnya lagi, nilai Akreditasi A (sangat baik) benar-benar didapat dari nol sejak masa kepemimpinannya mulai Mei 2015. Karena sebelumnya FKIP ULM tidak pernah ada Prodi yang terakreditasi A dan paling tinggi hanya bernilai B (baik) selama berdiri sejak 8 Desember 1983.

Contohnya saja FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah. Sebanyak 16 Prodi yang berstatus Akreditasi A didapat dari akumulasi tiga periode jabatan Dekannya.
"Kalau saya dari nol bukan warisan Dekan dulu. Insya Allah di akhir masa jabatan saya targetkan 10 Prodi Akreditasi A. Jadi pengganti saya tahun depan harus dapat 10 juga, sehingga jadi 20 Prodi Terakreditasi A di FKIP ULM," kata Wahyu.
Adapun satu Prodi yang ditargetkan pria kelahiran Bandung 10 September 1955 itu untuk menggenapkan 10 Prodi Akreditasi A adalah Pendidikan Kimia.
Karena menurut Wahyu, Prodi tersebut punya potensi sehingga terus didorongnya bisa meraih Akreditasi A dalam waktu segera.
"Saya punya harapan besar karena Prodi Pendidikan Kimia SDM-nya banyak Doktor dan karya ilmiahnya hebat," ucapnya.

Akreditasi yang jadi sebuah upaya pemerintah menstandarisasi dan penjaminan mutu alumni perguruan tinggi, menjadi tolok ukur bagi lembaga pengguna produk program perguruan tinggi untuk memastikan lulusan layak karena dihasilkan dari proses pengelolaan yang terkawal baik.
Menyadari pentingnya status Akreditasi pada sebuah Prodi itu, Wahyu pun mendorong seluruh civitas akademika bekerja keras dan serius mengurusnya. Bahkan, sebuah Prodi tidak diperbolehkan meluluskan mahasiswa atau menerbitkan ijazah jika terjadi kekosongan status Akreditasi lantaran dalam masa jeda atau proses perpanjangan (Re-Akreditasi).
Alhasil, pada tahun 2016 Prodi Pendidikan Bahasa Inggris berhasil menjadi yang pertama pemecah rekor meraih Akreditasi A.

Kini FKIP menjadi penyumbang Prodi Akreditasi A terbanyak, yakni 9 di ULM yang mana secara keseluruhan dari 11 fakultas, universitas tertua di Kalimantan ini mendapatkan 21 Prodi Akreditasi terbaik.
Pencapaian oleh FKIP ini tentu sangat membantu ULM yang dipimpin Sang Rektor Prof Dr H Sutarto Hadi secara institusi yang kini juga sedang berjuang dalam upayanya mengejar Akreditasi A dari saat ini statusnya hanya B.
Bahkan empat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dari Universitas Mulawarman, Universitas Patimura, Universitas Tadulako dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa melakukan kunjungan ke ULM pada 12 Januari 2018 lalu seiring perkembangan FKIP ULM selama beberapa tahun ini mengalami peningkatan yang pesat soal Akreditasi Prodi.

Selaku pemimpin administratif sekaligus keakademikan tertinggi di fakultas, Wahyu punya program unggulan yang nampaknya berhasil mendorong kemajuan FKIP secara signifikan.
Diantaranya mendoktorkan dosen yang belum doktor dan memprofesorkan dosen yang belum profesor. Pihak fakultas menanggung biaya sekolah dosen tugas belajar tersebut mencapai Rp 81 juta perorang dalam jangka waktu tiga tahun.
"Dari 211 dosen, 82 orang atau 38 persen sudah bergelar Doktor dan 9 Guru Besar. Harapan saya tahun 2019 bisa 100 dosen S3 sehingga separuh dari jumlah tenaga pengajar yang ada," tuturnya.
Kemudian insentif Rp 15 juta bagi setiap dosen untuk penulisan di jurnal internasional. Dimana FKIP ULM bekerja sama dengan Universitas Brawijaya dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung untuk pengiriman artikel ilmiah pada jurnal internasional terindeks oleh Scopus.
Wahyu juga meminta setiap jurusan untuk melaksanakan seminar internasional setahun dua kali. Bahkan tiap dosen mengikuti seminar maksimum setahun ke luar negeri dua kali dan dalam negeri dua kali.
Untuk mahasiswanya, ada Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ke luar negeri seperti ke Malaysia, Filipina dan Thailand.
"Terakhir ada 15 mahasiswa yang baru saja pulang dari praktik mengajar di Malaysia. Kami bekerja sama dengan Universiti Teknologi Malaysia (UTM)," beber Guru Besar Sosiologi ini.

Namun tak kalah pentingnya, ungkap Wahyu, punya kemampuan komunikasi dan literasi. Karena sehebat apapun substansi tanpa punya kemampuan komunikasi baik untuk menyampaikan gagasan bakal sulit bersaing.
"Untuk itu mahasiswa wajib terus membaca teks book, literatur, e-journal, e-book dan sebagainya. Apalagi dalam rangka menjawab revolusi industri dalam konteks belajar, lulusan FKIP ULM harus unggul dan berkarakter," tandasnya.
Karena diharapkan ketika kelak menjadi guru, maka bukan hanya sebagai pribadi profesional bertatap muka di kelas dengan murid dalam pembelajaran, namun juga jadi contoh teladan bagi anak didik dan masyarakat secara luas di lingkungan tempat tinggal.
"Karena guru harus sebagai inovator. Ketika tinggal di masyarakat jadi pelopor dan terdepan," ucapnya menekankan.

Tak terbayangkan sebelumnya jika dia akhirnya hijrah ke Banjarmasin pada tahun 1981 silam pasca lulus tes pengadaan dosen nasional seluruh tanah air yang diikuti di Bandung, Jawa Barat.
Berbekal ijazah Sarjana Program Studi PKN dan Hukum IKIP Bandung lulusan tahun 1979, Wahyu muda mulai mengabdi di FKIP ULM hingga akhirnya kini diberi amanah memimpin fakultas.
Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan di FKIP ULM. Untuk memotivasi diri sendiri, Wahyu punya prinsip yang berbunyi "Kalau kerja hari ini lebih baik dari kemarin untung. Kalau kerja hari ini sama dengan kemarin rugi dan kalau kerja hari ini lebih jelek dari kemarin celaka".
Pewarta: FirmanEditor : Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.