Bupati Kotabaru H Irhami Ridjani, Kamis, mengatakan, untuk memenuhi bahan baku bioetanol tersebut, investor berencana mengembangkan atau membudidayakan tanaman singkong.
Tahap awal, investor tersebut akan melakukan penanaman singkong sekitar 1.000 hektare.
"Untuk membuka tanaman singkong tersebut, investor asal China itu akan melibatkan masyarakat sekitar perusahaan," terang Bupati.
Tanaman singkong yang dikembangkan dan sebagai bahan baku bioetanol, berbeda dengan singkong yang dikonsumsi manusia.
Dengan demikian, lanjut Bupati, tanaman singkong tersebut tidak dikhawatirkan akan diserang hama, terutama hama babi hutan yang biasa menyerang tanaman singkong dan palawija milik petani setempat.
"Umur tanaman singkong tersebut sekitar enam bulan, sudah bisa dipanen, dan singkong ukurannya jauh lebih besar dibandingkan singkong biasa," ujar dia.
Hasilnya, tidak kalah dengan hasil perkebunan kelapa sawit dan karet.
Petani tidak perlu ragu untuk turut serta menanam singkong bahan baku bioetanol tersebut.
Sementara itu, pada pada 2008 lalu Pemkab Kotabaru juga berencana bekerjasama dengan PT Tiga Pilar Sejahtera, untuk membudidayakan tanaman singkong di lahan tidur seluas 12.500 hektare (Ha).
H Anang Choiransyah saat menjabat Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Kotabaru, mengatakan, rencananya pengembangan singkong tersebut ditempatkan di lahan-lahan tidur di wilayah Pulau Laut Tengah, Pulau Laut Barat, dan Pulau Laut Kepulauan serta Pulau Laut Selatan.
Pembicaraan awal, perusahaan PT Tiga Pilar Sejahtera mengajukan lahan seluas 12.500 ha, dengan pola 50 persen lahan inti dan 50 persen bermitra dengan masyarakat sekitar lahan," ujar Anang.
: Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.