Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi provinsi yang terdiri 13 kabupaten/kota tersebut kian meningkat.

Sebagai contoh pertumbuhan ekonomi Kalsel triwulan I (Januari - Maret) 2012 meningkat 6,28persen dibanding triwulan yang sama tahun lalu (y-o-y), ungkap Kepala BPS provinsi setempat, Iskandar Zulkarnaen, Senin.

Sumber pertumbuhan tersebut banyak disumbang sektor pertambangan dan penggalian sebesar 1,60 persen, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran 1,34 persen.

Sedangkan sektor pertanian hanya menyumbang 0,80 persen dari pertumbuhan ekonomi Kalsel triwulan I-2012, walau sebagian besar penduduknya petani.

Dibandingkan triwulan yang sama tahun 2011 (y-o-y) komponen yang mengalami peningkatan, yaitu pengeluaran konsumsi rumah tangga dan LNP naik sebesar 5,32 persen.

Selain itu, pengeluaran pemerintah naik sebesar 1,02 persen, dan impor sebesar 12,76 persen, ungkapnya kepada wartawan di Banjarmasin.

Sedangkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menurun sedikit atau sekitar 0,27 persen, dan ekspor mengalami penurunan sebesar -1,10 persen.

Begitu pula pertumbuhan ekonomi menurut siklus triwulanan yaitu dibandingkan triwulan IV (Oktober- Desember)2011 turun sebesar -7,55 persen.

Menurunnya pertumbuhan sektor pertanian lebih banyak terjadi karena pola tanam.

Sementara kondisi eksternal yang juga mempengaruhi, antara lain krisis minyak global yang berimbas langsung terhadap harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia.

Imbas tersebut membuat harga BBM menjadi mahal dan juga berdampak terhadap harga-harga sektor lain. Sektor yang berdampak langsung adalah transportasi, perdagangan dan jasa-jasa.

Komponen komsumsi rumah tanggan dan LNP serta komponen ekspor menjdi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2012 bila dibandingkan dengan triwulan IV-2011.

Perekonomian Kalsel yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas Dasar Harga Berlaku Triwulan I-2012 mencapai 16,76 triliun rupiah, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan mencapai 7,64 triliun rupiah. /her/C


: Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026