DR.Ir Abdul Haris Mustari yang juga dikenal sebagai dosen pada Fakultas Kehutanan IPB Bogor, yang bertindak sebagai peneliti pada tim ekspedisi khatulsitwa tersebut menyampaikan masalah tersebut kepada ANTARA Banjarmasin, melalui emailnya yang diterima, Minggu.
Menurut Mustari, bagi warga Dayak Meratus padi adalah tumbuhan yang dinilai sakral yang harus diberlakukan dengan baik.
Menanam padi dimulai dari menyiapkan lahan, membersihkan dari semak belukar, membakar lahan pada puncak musim kemarau pada bulan Juni - Agustus kemudian lahan siap ditanami padi pada bulan Oktiber ketika mulai musim hujan.
Semua varietas padi disebut "banih" yang disebut dengan banih putih, banih siamunus, banih sabai, banih tampiko, banih buyung,banih salak,banih kihung, banih kunyit, banih kanjangan, banih briwit, dan banih saluang.
Padi lainnya disebut, banih banyumas,banih harang, banih wayan, banih banar, banih kalapa, banih uluran, banih ambulung, banih patiti,banih benyumbang, banih santan lilin, dan banih sabuk.
Selain itu juga terdapat varietas padi lakatan atau pulut (ketan), seperti banih kariwaya, banih kalatan,banih harang, banih samad, banih saluang.
Dari 28 varietas tersebut padi buyung dan padi arai yang paling banyak dikembangkan karena rasanya yang enak, padi ditanam di lahan keting di lembah atau lereng sampai kemiringan 60 derajat.
Penanaman padi dilakukan secara gotong royong, sebelum acara penanaman terlebih dahulu dilakukan acara ritual yaitu membakar kemenyan sambil mengelilingi lahan secara membaca mantra-mantra maksudnya agar panennya melimpah.
Penanaman padi ini sistem tugal, yakni lahan diberi lubang lalu dimaukan benih dan tunggu ssekitar enam bulan padi yang dikembangkan tanpa pupuk dan pestisida tersebut siap dipanen.
Berdasarkan keterangan tim ekspedisi khatulistiwa mulai melaksanakan penjelajahan dan penelitian mulai Rabu 11 April 2012 selama tiga minggu di sebelah Selatan Pegunungan Meratus dengan objek penelitian dan penjelajahan di Gunung Tindihan, Gunung Paku, Gunung Periuk, balai adat Tamburasak dan balai adat Mancatur.
Tim terdiri tim jelajah 2 sebanyak 13 personil dan tim peneliti 1 sebanyak 15 personil, sementara tim jelajah 1 sebanyak 11 personil dan tim peneliti 2 sebanyak 14 personil.
Dengan daerah penjelajahan dan penelitian di desa Kiyu, Datar Hampakan, Juhu, Batu Perahu, Sumbai, Hinas Kiri, dan Gunung Halau-halau.
Sementara tim lainnya, yang disebut Tim Komsos melaksanakan kegiatan sosial di Tempat Pemakaman Umum (TPU),Masjid Jami Al Mujahid Desa Besar Kecamatan Batang Alai Selatan.
Selain itu melakukan penanaman pohon di Natih Kecamatan Batang Alai Timur, pengobatan massaldi Desa Timan Kecamatan Batu Benawa,penanaman 1000 pohon di Kabupaten Tapin, dan donor darah di Kodim 1002 Barabai. D/C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.