Analis Monex Investindo Futures Faisyal di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa dolar AS kembali bergerak lesu seiring investor mempertimbangkan tindakan perdagangan Amerika Serikat yang memberlakukan cukai tinggi terhadap beberapa produk dari Tiongkok dan Korea Selatan.
"Setelah berakhirnya shutdown pemerintah AS, pergerakan dolar AS dibayangi sentimen kebijakan perdagangan AS, sehinggga pelemahan dolar AS berpotensi berlanjut," katanya.
Ia menambahkan bahwa sikap pemerintahan presiden AS Donald Trump yang protektif dengan mengenakan tarif impor yang tinggi ke produk asal Tiongkok, khususnya mesin cuci dan penal surya dapat menahan pergerakan dolar AS.
Di sisi lain, lanjut dia, penjualan rumah di Amerika Serikat yang pesimis turut memberi pengaruh negatif pada pergerakan dolar AS.
Analis Binaartha Sekuritas reza Priyambada menambahkan bahwa dari dalam negeri, adanya penilaian positif dari Menteri Keuangan terkait kenaikan harga minyak mentah yang dapat membuat neraca perdagangan Indonesia menjadi surplus menjaga fluktuasi rupiah di area positif.
Selain itu, lanjut dia, adanya langkah strategis yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga inflasi agar tetap stabil turut membantu rupiah mengalami apresiasi terhadap doolar AS./f
Pewarta: Zubi MahrofiEditor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.